Sabtu, 13 Februari 2016

YESUS MAU KITA BERTOBAT











Sabtu, 13 Februari 2016 

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat. 
                                               (Lukas 5:32)  


Suatu berita yang menggembirakan bagi umat manusia yang sedang bergumul dalam keterikatan dan belenggu dosa bahwa kedatangan Yesus ke dunia ini mengampuni orang berdosa supaya bertobat. 

Pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani yang baik namun mengalami perubahan ketika banyak tekanan hidup yang melukai hatinya sehingga merusak keseimbangan dan keselarasan antara hati dan pikirannya. 

Suatu peristiwa yang menyakitkan hati biasanya terekam juga dalam pikirannya dan lama kelamaan tertimbun di alam bawah sadarnya sehingga membentuk benteng-benteng berupa prinsip dan sikap hidup di dalam dirinya. 

Pikiran dan sikap hati yang terluka akan sangat mempengaruhi perilaku dan perbuatan di kehidupannya sehari-hari. 

Tak mengherankan bila konsep dan prinsip orang yang terluka hatinya seringkali menjadi faktor penyebab yang dominan ia melakukan perbuatan dosa. 

Misalnya : 
di masa kecil, orangtuanya sering marah atau memaki dirinya dan melukai hatinya maka ia berusaha membentengi dirinya supaya tidak mengalami lagi. 

akibatnya ia membenci orangtuanya dan membenci orang lain juga dengan berlaku serupa seperti orangtuanya. 

contoh lainnya : 
penderitaan di masa lalu yang melukai hatinya akan mempengaruhi sikap dan perbuatannya di masa sekarang. 
bila ia sukses saat ini maka tanpa sadar ia memperlakukan orang lain seperti yang pernah dialaminya. 

Lalu bagaimana solusinya? 
Tidak ada jalan lain kecuali membawa orang yang terluka hatinya ini kepada Yesus untuk menyembuhkan dirinya. 

Ibrani 12:15 
Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. 

Hidup di dunia ini banyak peristiwa yang berpotensi melukai hati kita meskipun setiap hari kita telah berusaha mawas diri namun tetap saja ada celah di saat kita lemah sedang menjauh dari Tuhan. 

Itu sebabnya Daud mengungkapkan isi hatinya bahwa hanya dekat Allah saja ada ketenangan, kedamaian, sukacita dan kegembiraan yang membangkitkan semangat hidup. 

Mazmur 62:6-9 
Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari padaNyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepadaNya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapanNya; Allah ialah tempat perlindungan kita. 

Saudara/i-ku dalam Yesus Kristus, 

Bila saat ini hatimu gundah gulana atau hatimu merana tersakiti atau kesedihan, kekecewaan, kepahitan, kemarahan bergayut di hatimu karena orang lain yang mengucilkan dirimu, menghina dirimu, melukai hatimu, dsbnya maka datanglah mendekat kepada Tuhan seraya memohon belas kasihanNya. 

Kecenderungan kita membalas perbuatan orang lain yang menyinggung dan menyakiti hati, sangat mungkin kita lakukan namun bila kita segera mencari Tuhan maka hati kita dipulihkan dan berubah menjadi damai dan sukacita. 

Lukas 5:31 
Yesus berkata: "bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." 

Bila keadaan dirimu saat ini lemah atau dalam pergumulan dosa, segeralah datang kepada Yesus dan memohon pengampunan dariNya dan setelah itu bertobat; tidak melakukan lagi perbuatan dosa tersebut karena dosamu sudah diampuni Tuhan. 

Mazmur 32:1-2 
Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu! 

Hanya Tuhan yang memaklumi keadaan orang yang berdosa dimana TanganNya selalu terbuka memberikan maaf dan pengampunan. 

Kerapkali kenyataannya adalah bila seseorang terlihat melakukan kesalahan maka ia akan dikucilkan oleh saudara atau teman2nya; apalagi bila ia berbuat dosa maka dirinya dihakimi sebagai orang yang bersalah selama-lamanya. 

Meskipun suatu ketika ia berubah menjadi orang yang baik tetapi penilaian saudara/temannya masih melekat tentang dirinya seorang pendosa. 

Hal seperti ini terjadi pada Lewi seorang pemungut cukai yang dihakimi oleh orang Farisi dan ahli taurat sebagai seorang pendosa padahal Lewi bertobat karena perjumpaannya dengan Yesus. 

Lukas 5:29-30 
Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" 

Memang biasanya orang lain mudah sekali mengingat kesalahan orang lain dan menghakiminya; bahkan seringkali dijauhkan dari pergaulannya. 

Sungguh miris bila kebiasaan ini masih ada di sekitar kita dan orang tersebut perlu memahami perkataan Yesus di bawah ini : 

Lukas 5:31-32 
Jawab Yesus kepada mereka, kataNya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." 

Marilah di masa pra-paskah dan masa puasa ini, kita intropeksi diri masing2; akui segala kesalahan dan perbuatan dosa yang masih bercokol/berdiam di dalam diri kita dan segeralah bertobat. 

Dan bila diri kita dihakimi, dikucilkan atau dijauhi oleh saudara kita atau teman2 kita maka janganlah bersedih hati dan dendam kepada orang lain yang menghakimi dan menyakitkan hati kita. 

Lebih baik mengadulah kepada Tuhan Yesus yang pasti akan membela diri kita sebab IA mengasihi orang berdosa dan yang dipandang hina oleh dunia sebab IA datang ke dunia ini menyelamatkan orang berdosa supaya mereka bertobat dan berbalik ke jalan kebenaran dan jalan kehidupan yang Yesus tunjukkan. 


REFLEKSI DIRI 

Sudahkah aku bertobat dari sikap hidup yang jauh dari Jalan Tuhan dan segera mengarahkan hidupku sesuai dengan Jalan Kebenaran dan Jalan Kehidupan sesuai kehendak Tuhan? 


Salam Kasih, 
Surya Darma 

============= ☆☆☆ =============

Kalender Liturgi Katolik 
Hari Biasa 
Warna Liturgi : Abu 

Yesaya 58:9b-14 
Mazmur 86:1-6 
Lukas 5:27-32 
BcO : Keluaran 3:1-20 

============= ☆☆☆ =============

Jumat, 12 Februari 2016

MAKNA BERPUASA









Jumat, 12 Februari 2016 

Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka 
belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, 
supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk....
                                                        (Yesaya 58:6)  

Saat ini kita memasuki masa puasa selama 40 hari; seperti yang pernah dilakukan Yesus di padang gurun sebelum memulai KaryaNya untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah dan untuk menyelamatkan manusia. 

Tujuan kita berpuasa dari kacamata sebagai umat : 

1) mengenang bagaimana pengorbanan Yesus menebus kita dari alam maut. 
2) intropeksi diri sejauh mana perjalanan iman kita kepada Yesus. 
3) mengevaluasi apa yang sudah kita kerjakan dalam tugas perutusan dan pelayanan. 

Kita harus fokus pada makna/tujuan berpuasa dan bagaimana kita mewujudkannya dalam sikap dan perbuatan di dalam hidup kita. 

Kita seharusnya sudah memahami tentang tatacara atau mekanisme berpuasa; apakah mau berpuasa setiap Rabu dan Jumat atau berpantang saja ataukah mau berpuasa selama 40 hari. 

Sekali lagi, motivasi dan tujuan kita berpuasa adalah hal utama yang harus ditanamkan dalam pikiran dan hati kita agar supaya Tuhan berkenan. 

Jangan sampai Tuhan tidak berkenan pada puasa yang kita lakukan, seperti yang terjadi pada bangsa Israel. 

Yesaya 58:6-7 
Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! 

Puasa yang seperti ini yang Tuhan kehendaki agar kita juga melakukannya, yaitu : 
1) memperjuangkan keadilan dan melepaskan yang terbelenggu kelaliman 
2) menolong orang yang teraniaya 
3) bermurah hati kepada orang yang lapar dan miskin 

Dan Tuhan Allah mengatakan : jika kita berpuasa dan melakukan perbuatan seperti yang dikatakanNya maka DIA akan memberkati kita. 

Yesaya 58:8-9a 
Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! 

JADI, 

Seharusnya kita melakukan segala sesuatu hendaknya sesuai dengan kehendak Tuhan Allah dan bukan berdasarkan apa yang ingin kita lakukan tetapi tidak berkenan bagiNya. 

Dalam hal ini yang dibahas dalam bacaan pertama dan bacaan Injil hari ini adalah tentang berpuasa yang benar dan kapan waktunya kita berpuasa. 

Matius 9:14-15 
Datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-muridMu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. 

Namun, hal yang serupa hendaknya diterapkan juga kepada hal-hal lain yang berkaitan dengan kegiatan kerohanian, seperti misalnya dalam kegiatan pelayanan di komunitas rohani. 

Hendaknya melakukan kegiatan pelayanan sesuai dengan kehendak Tuhan dengan berpuasa, berdoa, dan bersaat teduh memohon hikmat Tuhan tentang hal-hal apa saja yang Tuhan kehendaki untuk kita kerjakan. 

Mari, dalam kesempatan kita berpuasa yang membajak hati dan pikiran kita agar mampu menemukan makna terdalam dari penghayatan iman kita kepada Yesus. 

REFLEKSI DIRI 

Apakah aku telah menemukan makna terdalam dalam berpuasa dan apakah telah sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan dan berkenan bagiNya? 


Salam Kasih, 
Surya Darma 

============= ☆☆☆ =============

Kalender Liturgi Katolik 
Hari Sesudah Rabu Abu  
Warna Liturgi : Abu 

Yesaya 58:1-9a 
Mazmur 51:3-6,18-19 
Matius 9:14-15 
BcO : Keluaran 2:1-22 

============= ☆☆☆ =============

Kamis, 11 Februari 2016

SANGKULI










Kamis, 11 Februari 2016 

Kata Yesus kepada mereka semua: setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 
                                                    (Lukas 9:23)  

Tuhan, Allah teramat baik kepada kita manusia dengan mengAnugerahkan KasihNya dan memberikan petunjuk bagaimana menjalani kehidupan di dunia ini agar supaya setiap orang mampu melewati segala rintangan/tantangan dan memperoleh hidup kekal di Sorga. 

Namun ternyata tidak semua orang mau menanggapi dan mengikuti petunjuk dan jalan yang dipersiapkan Tuhan sebab lebih memilih jalannya sendiri. 

Tuhan Allah mengingatkan manusia terus-menerus agar berbalik kepadaNya dan mengikutiNya.  

Ulangan 30:16 
karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturanNya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh Tuhan, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya. 

Sejak jaman dahulu hingga sekarang ini kita manusia jatuh bangun melawan diri sendiri yang cenderung berbuat dosa. 

Timbul suatu pertanyaan : mengapa kita manusia, boleh dikatakan tidak mampu melawan keinginan berbuat dosa??? 
atau apakah peraturan dan perintah Tuhan Allah itu sulit kita laksanakan? 

Firman Tuhan mengatakan bahwa : 
semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. 
(Roma 3:23) 

Kecenderungan berbuat dosa adalah musuh terberat yang harus dikalahkan tetapi kenyataannya sulit sekali dan hal ini diakui oleh Rasul Paulus. 

Roma 7:22-23,26 
Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. 

Lalu bagaimana caranya kita sebagai orang beriman kepada Yesus Kristus dapat menaklukan keinginan berbuat dosa? 

Jawabannya adalah : barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku maka ia akan menyelamatkannya

Lukas 9:24 
Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya

Kehilangan nyawanya karena Aku artinya kita menyerahkan seluruh diri kita kepada Yesus Kristus maka kita beroleh keselamatan. 

Benarkah demikian dan apa buktinya atau apa jaminannya? 
Lukas 9:26 
Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataanKu, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaanNya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus

artinya bila seseorang menolak percaya kepada Yesus dan tidak mau menuruti perkataan Yesus maka pada hari kiamat atau hari kedatangan Yesus kedua kali di dunia ini, orang tersebut akan ditolak oleh Yesus Kristus dan tidak menerima kehidupan kekal di Sorga. 

Masalahnya adalah masih banyak orang tidak percaya pada perkataan Yesus pada jaman Yesus saat itu dan di jaman sekarang juga sama; buanyak yang tidak percaya kepada perkataan Yesus yang tertulis di Injil. 

Macam-macam alasannya; 
ada yang bilang bahwa yang tertulis di Injil diragukan keasliannya sebab bisa saja ditulis salah atau ditambahkan padahal belum tentu yang ditulis di Injil sungguh-sungguh perkataan Yesus. 

yang lain beralasan bahwa yang ditulis di Injil ada yang berbeda satu dengan yang lainnya sebab jika betul Injil itu dari Allah maka tidak mungkin terjadi perbedaan antara penulis Injil. 

Misalnya : 
Injil Matius dan Markus menuliskan bahwa kedua penyamun yang disalibkan bersama Yesus, mencela Yesus (Matius 27:44, Markus 15:32) sedangkan Lukas 23:39-43 menuliskan bahwa seorang penjahat yang disalibkan bersama Yesus malah menghujat Yesus dan yang satunya lagi justru membela Yesus. 

Ada juga yang berkata bahwa yang terpenting adalah perbuatan daripada rajin membaca Injil tetapi perbuatannya tidak baik. 

Yach begitulah banyak alasan orang yang tidak mau menuruti perkataan Yesus yang tertulis di Injil karena ia mengandalkan pengertian sendiri. 

Injil hari ini sangat jelas dimana Yesus mengatakan syarat-syarat mengikutiNya adalah : sangkal diri, pikul salib dan ikut Aku (=sangkuli) - Lukas 9:23. 

Yang dibahas di bagian atas adalah salah satu syarat yaitu Ikut Aku atau ikuti ajaran dan perkataan Yesus, dan di jaman sekarang ini tertulis di Injil. 

Mempercayai Perkataan Yesus atau Perkataan/Sabda Tuhan adalah hal yang krusial bagi kita sebab menentukan keputusan kita; apakah mau menuruti dan mentaati Sabda Tuhan ataukah menolakNya? 

Dalam Alkitab, banyak petunjuk gimana caranya kita menuruti Sabda Tuhan dan tekun melaksanakanNya dengan penuh ketaatan, diantaranya : 

Yosua 1:8-9 
Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi. 

Yohanes 15:5-7 
Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. 

Menyangkal diri 

adalah suatu keputusan mengutamakan melakukan kehendak Tuhan meskipun harus melepaskan segala keinginan dan kepentingan diri sendiri. 

Lukas 9:25 
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? 

sebab kita tahu bahwa mematikan atau mengosongkan diri dari keinginan kedagingan membawa kita kepada kesatuan dengan Kristus di dalam penderitaan dan kebangkitan. 

Memikul Salib 

adalah suatu keputusan mau menerima segala konsekwensi mengikuti Yesus meskipun harus mengalami penderitaan badan dan intimidasi atau ancaman hingga rela mengorbankan nyawa demi ketaatan kepada Yesus Kristus. 

sebab kita tahu bahwa kehilangan nyawa demi Yesus, pasti membawa kita kepada keselamatan abadi dan menerima Anugerah kehidupan di Sorga. 

Yohanes 12:25 
Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. 

REFLEKSI DIRI 

Apakah aku mau menerima sangkuli di dalam hidupku dan dengan sabar dan tekun menjalaninya penuh ketaatan dan kesetiaan? 


Salam Kasih, 
Surya Darma 

============= ☆☆☆ =============

Kalender Liturgi Katolik 
Hari Orang Sakit Sedunia 
SP Maria dari Loudres 
Warna Liturgi : Ungu 

Ulangan 30:15-20
Mazmur 1:1-4,6 
Lukas 9:22-25 
BcO : Keluaran 1:1-22 

============= ☆☆☆ =============

Rabu, 10 Februari 2016

HAL SEDEKAH, PUASA, DAN BERDOA













Rabu, 10 Februari 2016 

Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. 
                                                              (Matius 6:1)  

Yesus mengetahui sifat manusia dalam segala hal termasuk ketika menjalankan kewajiban agama dan mengingatkan agar melakukannya dengan tulus hati dan tidak bertujuan mencari pujian serta kemuliaan diri sendiri. 

Ada 3 hal yang disorot Yesus yakni : dalam hal memberi sedekah atau istilah sekarang disebut donatur dermawan, juga dalam hal berpuasa dan berdoa. 

A. SIKAP KITA MEMBERI SEDEKAH 

Memberi adalah sikap dan perbuatan yang sangat terpuji; diantaranya memberi sedekah atau memberi dalam bentuk materi berupa uang dan benda duniawi lainnya. 

Namun perlu diingat bahwa ketulusan dan kemurnian hati kita adalah hal yang krusial yang harus kita miliki sebab apa gunanya kita tersohor sebagai pemberi sedekah atau donatur yang dermawan di mata manusia tetapi tidak berkenan di mata Tuhan. 

Ini realita dan bukan menghakimi bahwa kecenderungan orang yang memberi adalah perbuatannya memberi mendapat pujian dari orang lain dan seringkali pemberiannya ada tujuan bisnis atau keuntungan diri sendiri. 

Pemberi seperti ini menurut Yesus sudah mendapat upahnya tetapi ia tidak akan mendapat upah dari Bapa Surgawi. 

Matius 6:2 
Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 

Anehnya, orang beriman masih banyak haus pujian ketika ia berbuat baik dan menjadi donatur.... 
Ia akan umumkan bahwa ia sudah berbuat baik; ia sudah melakukan perbuatan ini dan itu secara lisan maupun secara tulisan dengan cara broadcast ke media Facebook, Twitter, Whatsapp, BBM, koran/majalah atau kasih tahu kepada kepada banyak orang yang dijumpainya. 

Sayang sekali, hanya demi kepuasan jiwanya; demi popularitas dsbnya, orang ini kehilangan Berkat Sorgawi. 

Seharusnya ia memahami kebenaran Firman Tuhan dan mentaati kehendak Tuhan sehingga perbuatan baik yang dilakukannya berkenan di mata Tuhan dan ia beroleh Berkat Surgawi. 

Matius 6:3-4 
Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. 

Garis bawahi kalimat : 
hendaknya sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi maka Bapamu yang melihat yang tersembubyi akan membalasnya kepadamu

Tanamkan dalam hati dan pikiran kita bahwa perbuatan baik apapun yang kita lakukan hendaknya hanya semata-mata ungkapan syukur kepada Tuhan dan tidak ada sedikitpun untuk kemuliaan diri sendiri dan biarlah hanya Tuhan saja yang tahu perbuatan kita. 

Persoalan nantinya perbuatan baik yang kita lakukan dipakai Tuhan melalui perantaraan orang lain untuk tujuan agar menyentuh hati banyak orang agar mau datang mendekat kepada Tuhan adalah hal lain yang bukan kita rencanakan. 

B. SIKAP KITA BERPUASA 

Hari ini gereja Katolik menetapkan sebagai hari rabu abu sebagai tanda dimulainya saat berpantang dan berpuasa selama 40 hari menjelang hari paskah tiba. 

Hal ini sesuai dengan perkataan Yesus bahwa : 
dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.  (Matius 9:15) 

Tujuan kita berpantang dan berpuasa adalah menghormati pengorbanan Yesus yang mati di Salib demi menebus kita manusia dari alam maut. 

Kita tidak hanya berpuasa dimaksudkan untuk mengenang pengorbanan Yesus tetapi kita juga meneladani sikap hidup Yesus di dalam kehidupan kita. 

Oleh sebab itu kita harus mendalami makna puasa dengan sungguh-sungguh agar sikap kita berpuasa, tidak mencari popularitas dan pujian orang lain. 

Yesus mengajarkan cara kita berpuasa: 
Matius 6:16-18 
"Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." 

Berpuasa atau tidak berpuasa adalah pilihan kita; apakah kita menghargai pengorbanan Yesus dan kebaikanNya yang telah menyelamatkan kita ataukah hanya sekedar menunaikan kewajiban yang ditetapkan oleh peraturan gereja katolik tetapi sikap hidup keseharian kita banyak melanggar kehendak Tuhan. 

Dengan kata lain, 
adalah lebih baik engkau tidak berpuasa tetapi sikap hati dan perbuatanmu penuh kasih daripada engkau taat berpuasa hingga 40 hari tetapi setelah itu sikap dan perbuatanmu hanya semata-mata untuk kepentingan dirimu sendiri. 

C. SIKAP KITA BERDOA 

Berdoa adalah sikap hati yang baik yang membangun relasi intim dengan Tuhan sehingga kita semakin mengenal Tuhan; apa saja yang Tuhan senang dan yang tidak berkenan di mata Tuhan. 

Jangan sampai kita berdoa bertujuan supaya orang lain melihatnya dan memujinya mengatakan bahwa diri kita orang suci yang patut disanjung tinggi. 

Matius 6:5 
Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 

Yesus mengingatkan bagaimana cara dan sikap kita berdoa yaitu : 
Berdoalah dengan setulus hati tanpa menyembunyikan keinginan mendapat pujian dan kemuliaan diri 

Matius 6:6 
Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. 

Kepura-puraan atau menyembunyikan maksud dan tujuan untuk kepentingan pribadi adalah sesuatu yang sangat tidam disukai Bapa Surgawi sehingga tidak akan mencurahkan BerkatNya kepada orang yang bersikap demikian. 

Tanamkan dalam hati dan pikiran kita bahwa Bapa Surgawi menginginkan kita berbuat apa adanya dan bersikap terbuka dan jujur kepadaNya ketika kita melakukan suatu perbuatan maupun menjalankan kepatuhan perintahNya sebab IA MAHA TAHU SEGALANYA. 

REFLEKSI DIRI 

Apakah aku melakukan kewajiban dan mentaati kehendak Tuhan dengan hati yang bersih, tulus hati, dan dengan penuh kesungguhan hati? 


Salam Kasih, 
Surya Darma 

============= ☆☆☆ =============

Kalender Liturgi Katolik 
Hari Rabu Abu Pantang Puasa 
Warna Liturgi : Ungu 

Yoel 2:12-18 
Mazmur 51:3-6, 12-14, 17 
Matius 6:1-6, 16-18 
BcO : Yesaya 58:1-14 

============= ☆☆☆ =============