Selasa, 05 Juni 2012

EMAUS

Pertanyaan mendasar yang patut diurai dalam psikogenetik adalah :
1. “Mengapa kita selalu jatuh dalam kelemahan yang sama?”
     padahal setiap kali kita sudah berusaha memperbaiki diri, tapi selalu jatuh lagi pada kelemahan
    yang sama.
2. "Mengapa kita memilih cara berkomunikasi negatif yang konvensional berasal dari keluarga?”
    akibat dorongan-dorongan alam bawah sadar yang dibentuk dari keluarga (sejak 0 – 10 tahun)
    yang pada akhirnya sering menimbulkan konflik dalam komunikasi baik terhadap pasangan,
    anak-anak, maupun orang lain. kita perlu untuk mengenali alam bawah sadar kita yang terbentuk
    sejak usia 0 – 10 tahun, dan mengendalikannya. 
    Dengan demikian, kita mampu memperbaiki cara-cara kita berkomunikasi, mengambil keputusan,
    dalam kehidupan sehari-hari. Kita belajar dari keluarga jaman Patriakh, (Abraham-Ishak-Yakub)
    supaya kita tidak jatuh pada lubang yang sama, baik dari generasi sebelum kita dan kemudian
    sifat yang diturunkan ke anak-anak kita.

Dalam ilmu psikologi, istilah psikogenesis, merupakan bagian dari psikologi Gestalt, yang kemudian diperkenalkan oleh Anne Teachworth, pendiri Gestalt Institute of News Orleans, USA, tahun 1992. Bahasan Anne Teachworth, tentang genesis (=proses terbentuknya) alam psikhis (bawah sadar) kita sejak dini (usia 0-10 tahun). Menurut teori ini setiap manusia memiliki “endapan alam bawah sadar” yang secara konsisten menentukan setiap perilaku kita saat ini, termasuk dalam memilih dan mengambil keputusan penting.
Gestalt bilang bahwa tingkah laku kita sekarang ini adalah hasil rekaman alam bawah sadar kita yang terulang. Keseluruhan pengalaman mempengaruhi cara kita berespon terhadap apa yang kita lihat sekarang ini.
Pengalaman2 apa sih yang dimaksud?
Pengalaman2 yang amat sangat kuat kita rekam dan masuk ke rekaman alam bawah sadar kita saat kita berusia 0-10 thn.
Mnurut Gestalt, justru pada kondisi usia segitulah lagi kuat2nya kita merekam. Jadi sifat2nya tidak diturunkan tapi secara psikologis direkam oleh neuro kita--itu yg dilakukan karena dorongan bawah sadar. Rekaman2 yang terserap tersebut dinamakan imprint (cetakan/endapan--di alam bawah sadar), yang kita bawa sampe tua nanti.
Ada 2 kondisi yang memaksa kita kemali kepada program bawah sadar kita tadi:
1) Mengambil keputusan penting
2) Pada saat stress Pendekatan ini juga pernah lho dilakukan sama Obama.

Dalam biografinya, dia menelusuri jejak kepribadian bapaknya. Dia ke Hawaii dan nanya2 orang di sana tentang bapaknya. Walaupun relasi dia dan bapaknya cuman bbp tahun, tapi bapaknya sudah memberikan imprint pada Obama, yaitu bagaimana ketegasan bapaknya, pola pikir, dan pengambilan keputusan yang sama dengan Obama sekarang.
Sebenernya gak cuman orangtua juga sih yang berpengaruh, pokoknya orang2 dalam lingkungan lo yang intensitas berinteraksi dengan lo paling gede. misal, babysitter. wuuihh, bisa banget lho kelakuan babysitter menanamkan imprint tersendiri sama lo yang dulunya di babysit.

Selain itu, hubungan antara nyokap bokap lo, bagaimana bokap memperlakukan sibling lo, semua deh yang bisa lo rekam saat lo di usia 0-10 tahun bisa jadi imprint buat lo! And you know what, justru hal2 yang negatif yang bisa lo rekam paling kuat. Jadi hati2 kalo punya anak nanti.

 Sesi 2 : Family Origin Inventory
 Sebuah bagan yang menunjukkan hubungan saya dan orang tua serta kakek nenek dan juga kehidupan saya waktu umur 0-10thn.

Your Inner Child--Pengalaman masa kecil lo yang udah jadi imprint (rekaman bawah sadar) yang secara tidak sadar bawa sampe sekarang sampai tua nanti. Itu gak bisa dihilangkan tapi bisa diminimalisir.
Your Inner Mate--Sifat2 yang lo harapkan dari pasangan saya. Ternyata diambil dari sifat orang tua favorit saya saat saya berumur 0-10 thn, either your mom or your dad.
Your Inner Adult--Sifat2 yang lo bawa sampe sekarang. Justru dari salah satu orang tua yang less lo sukain than the other one, sekali lagi, waktu usia lo 0-10 thn
Your Inner Parent--Perilaku lo ke anak lo saat lo udah jadi orang tua nanti. Datang dari perilaku your less-favorite-parent ke lo saat umur 0-10 thn.

Hasil gue:
Inner child gue bahagia, senang2, dan tanpa beban
Inner Mate gue adalah orang yang bersifat seperti ibu gue
Inner Adult dan Inner Parent gue sama seperti perilaku bokap gue

Kamis, 10 Mei 2012

KITA INI ANAK ALLAH

Dalam keheningan, perasaanku teduh dan tanpa kusadari aku menggoreskan dan menumpahkan isi hatiku. Inilah sekerat sketsa renungan hatiku tentang : anak Allah.

Kubuka Alkitabku, kubaca dan kurenungkan bacaan harian, mata hatiku tertambat pada satu ayat dibawah ini :

1 Yohanes 3:1-2
Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.
Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.
Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

Setelah itu hatiku bertanya : benarkah aku ini anak Allah?
Yohanes 1:10-13
Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, namun dunia tidak mengenal-Nya.
Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Galatia 3:26
Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Seorang bapa pasti mencintai anak-anaknya tetapi seorang anak belum tentu mencintai bapanya. Apalagi yang aku sebut bapa disini adalah BAPA SURGAWI, sedangkan Papa-ku saja mengasihiku.

Matius 7: 9-10
Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti atau memberi ular, jika ia meminta ikan?

Mazmur 103:13-14
Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.

lalu kucoba menelusuri di relung hatiku :
sudahkah aku ini mencerminkan diriku sebagai anak Allah?
sebagai anak :
- sudah sepantasnya aku menyenangkan hati bapa-ku
- sudah selayaknya aku membalas kebaikan bapa-ku
- sudah seharusnya aku tahu apa yang bapa inginkan
- sudah waktunya aku mengerjakan apa yang bapa kehendaki

Seringkali aku bertingkah-laku seperti anak dunia yang mengumbar hawa nafsu kedagingan belaka tanpa menjaga kekudusan tubuh dan jiwaku.

Roma 6:13
Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.

1 Korintus 6:19
tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?

Roma 12:1
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Aku mengakui segala kekurangan dan kedegilan diriku betapa aku tidak sungguh-sungguh menjalani hidup sebagai anak Allah yang telah Allah anugerahkan lewat penebusan Yesus di Salib. Oleh karena beratnya tekanan hidup yang ku alami sehingga hidupku kacau dan jauh dari Allah dan terkadang aku meragukan jati diriku sebagai anak Allah ; seperti kisah dibawah ini :

Alkisah suatu ketika seekor induk ayam heran di sangkarnya tergeletak sebuah telor yang ukurannya lebih besar daripada telor yang biasa dia keluarkan. Sebagai seekor ayam betina yang menjalankan kewajiban alaminya mengerami telor agar menjadi seekor anak ayam maka tanpa sungkan dia erami juga telor tersebut diantara telor-telor yang biasa dia erami. Singkat cerita telor tersebut tumbuh dan berkembang sebagai mana layaknya hidup seekor anak ayam namun ia merasa heran kenapa dirinya lebih besar daripada saudaranya yang lain. Suatu hari ia melihat seekor burung rajawali terbang tinggi di angkasa dan ia mengaguminya. Ia melamun dan membayangkan betapa senangnya jika ia bisa terbang seperti burung rajawali. Ia tidak tahu bahwa sesungguhnya ia adalah anak burung rajawali dan induk ayam itu tidak memberitahu kepadanya.

Akhirnya aku menyadari dan segera bertekad meninggalkan cara hidupku yang salah dan puji syukur kepada Allah yang begitu mengasihi diriku telah mengampuniku.
Aku berjanji pada diriku untuk selalu mengingat segala hal yang telah diajarkan kepadaku dan segera bertindak melakukannya dalam langkah-langkah hidupku selanjutnya.
Tak akan pernah aku lupakan segala pengajaran yang telah kuterima dan akan kubawa serta dalam sepanjang hidupku selanjutnya.

Kriteria Hidup Sebagai anak Allah

1. Mengerti dan Melakukan kehendak Allah

Efesus 5:15-17
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

Roma 12:2
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

2. Mengasihi Allah

1 Yohanes 5:2
Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.

1 Petrus 1:8
Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan.

Yohanes 14:21
Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.

3. Menjauhkan diri dari perbuatan dosa

1 Yohanes 3: 9-10
Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.
Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.

1 Yohanes 3: 6-8
Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.
Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu.
Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar;
barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.

Ibrani 10:26
Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.

KESIMPULAN 

Ingatlah kita ini anak Allah karena kepercayaan kita kepada Yesus.
Jangan sia-siakan dan meremehkan anugerah agung ini.
Tinggalkanlah cara hidup yang tidak mencerminkan sebagai anak Allah.
Tanggalkanlah citra anak dunia yang mengutamakan hawa nafsu.

Masakan kita mau lepaskan anugerah sebagai anak Allah, oleh karena kita masih mau hidup sebagai anak-anak dunia ?
seperti halnya Bangsa Israel yang tegar tenguk lebih memilih kehidupan di Mesir sebgai budak daripada kehidupan di tanah terjanji sebagai Bangsa pilihan Allah. (Baca Kitab Bilangan)

2 Petrus 2:20-22
Jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.
Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka.
Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini:
"Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya."

Galatia 3:3-4
Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!


Salam Sejahtera Selalu,
Surya Darma

Rabu, 09 Mei 2012

MENGAPA AKU JADI BEGINI ?

A. PENDAHULUAN

Dalam mengarungi samudera kehidupan ini, seringkali tidak berjalan dengan mulus seperti yang kita harapkan. Tidak jarang membuat hati kita menjadi kecewa dan mengalami kepahitan bahkan tanpa kita sadari iman kita terombang-ambing dan bertanya-tanya
- Benarkah Engkau ada Tuhan?
- Mengapa saya harus mengalaminya? Kenapa Tuhan? atau
bagi yang aktif dalam pelayanan di gereja ketika mengalami masalah mempertanyakan :
 - Tuhan, Bukankah aku sudah melayaniMU?
- Bagaimana mungkin Engkau membiarkan aku jatuh dalam penderitaan?

Iman seseorang akan terlihat ketika ia menangani persoalan yang menerjang hidupnya.
Apakah imannya akan tergoncang ataukah tetap bertahan sambil berharap selalu kepada Allah.
- Jika keadaan hidup serba mudah-menyenangkan, semua orang bisa bersorak & memuji Tuhan
- Jika keadaan hidup serba sulit dan sepertinya tidak menemukan jalan keluar maka tidak banyak
  orang mampu bertahan dan mengucap syukur atas segala hal yang terjadi pada dirinya.

Kita manusia cenderung hanya mau menerima Berkat Tuhan tetapi menolak segala bentuk ujian dan penyangkalan diri, apalagi disuruh memanggul Salib.
Apakah kita hanya mau menerima yang baik saja dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayub 2:10b)

B. MARI KITA TELUSURI APA PENYEBABNYA

Tuhan memberikan setiap orang masing-masing talenta sebagai bekal untuk menghadapi tantangan hidup ini namun banyak orang melalaikan atau menyia2kan apa yang sudah Tuhan berikan.
Pada saat masalah terjadi, yang dipersalahkan adalah orang lain dan ia "lupa" meng-intropeksi diri bahwa realita yang sering terjadi adalah masalah itu terjadi pada umumnya oleh karena kesalahan kita sendiri.

Banyak contoh yang dapat kita lihat, misalnya :
ketika seseorang tidak mendapatkan pekerjaan yang baik dengan gaji yang tinggi maka ia menyalahkan atasannya atau boss-nya berlaku tak adil.
seorang mahasiswa setelah lulus kuliah, ia tidak mendapatkan pekerjaan sedangkan ia tidak siap untuk ber-wiraswasta menciptakan lapangan kerja bagi dirinya.
Mau buka usaha, ia mengeluh tidak punya modal.

Ada beberapa pertanyaan yang mesti kita kritisi pada diri kita , yaitu :
1. Apakah saya sudah menetapkan sebuah visi?
2. Apakah saya sudah membuat suatu perencanaan yang terstruktur baik?
3. Apa tindakan konkrit yang sudah saya kerjakan untuk mewujudkannya?
4. Apakah saya menyertakan Tuhan sebagai pimpinan dalam perencanaan saya?

Yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana persiapan kita dengan menggunakan talenta yang sudah Tuhan berikan kepada kita agar diberdayakan se-optimal untuk dapat bertahan dan memenangkan setiap tantangan hidup yang kerap kali tidak kita perhitungkan tetapi tiba-tiba datang menyerang diri kita.
Jika kita lalai dan tidak mempersiapkan diri sebelumnya maka badai persoalan menerpa maka kita panik dan tidak mampu bertahan bahkan menjadi lemah tiada berdaya, pada akhirnya datanglah penderitaan yang berlarut-larut berkepanjangan. apalagi dibarengi dengan putus-asa dan hilang pengharapan maka hidup kita menjadi hancur berantakan, kita mengalami depresi dan ......

Tuhan Yesus sudah memperingati kita dalam bacaan Injil berikut ini :
Matius 7:24-25
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana yang mendirikan rumahnya diatas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan diatas batu. 

Matius 7:26-27
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku inidan tidak melakukannya ia sama dengan orang yang bodoh yang mendirikan rumahnya diatas pasir. Kemudian turunlah hujandan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu sehingga rubuhlah rumah itu dan hebat kerusakannya.

Kita semua sudah tahu bahwa setiap orang beriman pasti pernah mengalami diserang oleh "banjir badai" seperti perumpamaan diatas. Rumah yang didirikan diatas batu tidak roboh artinya rumah itu memiliki pondasi yang kokoh.
Begitu juga kita seharusnya membangun iman kita yang kokohsehingga mampu melawan setiap badai persoalan hidup.
Yang membedakan setiap orang percaya adalah : Pada Skala berapa kekuatan imannya meredam kegoncangan?

LANGKAH APA YANG SEHARUSNYA KITA PERSIAPKAN

1 . PERCAYALAH SEPENUHNYA KEPADA TUHAN YESUS

Bagi orang beriman telah bertahun-tahun pergi ke gereja tak perlu lagi dipertanyakan apakah percaya kepada Yesus? Yang menjadi fokus perhatian kita adalah seberapa dalam kepercayaan kita kepada Yesus ? berarti berbicara mengenai sikap hati kita yang mau berserah kepada Tuhan Yesus. Banyak kata-kata bijak kita baca, kita dengar dan kita ingat bahwa kita harus berserah kepada Tuhan namun tidak seindah kata-kata berserah, ternyata tidak mudah bagi kita untuk menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan.

Yeremia 29:11
Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Kita memang sudah memahami rancangan Allah sesungguhnya maka kita pasti mendengar dan melakukan perkataan Tuhan dan kita dengan berani menjawab tantangan hidup dengan berkata, segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13)

2. MILIKILAH KARAKTER ILAHI

Dari bacaan Injil Matius pasal 7 diatas, ada kata kunci yang perlu kita ingat dan kita pegang erat-erat yaitu : Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya.
Perkataan Yesus yang manakah yang dimaksudkan ?
Kita harus membaca Injil Matius mulai pasal 5 ketika Yesus berkotbah di bukit memberi pengajaran2 kepada banyak orang.
Dimulai dengan kata "Berbahagialah" atau lebih dikenal dengan sebutan "7 Sabda Bahagia" Perkataan Yesus agar kita memiliki 7 sikap hati mencerminkan karakter Ilahi yang harus kita persiapkan dalam berguna saat kita meniti kehidupan ini.

3. BERIKAN TEMPAT PALING UTAMA BAGI ALLAH

Matius 6:33
carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka
semuanya itu akan ditambahkan kepadamu

Banyak orang menginginkan Berkat Allah yang optimal dengan bersikap seadanya bahkan acuh tak acuh,tidak mau tahu apa kata Firman Tuhan bahkan lebih mendahulukan ajaran dan prinsip dunia. Tidak sedikit orang menaruh Allah di belakang dirinya sedangkan ia berdiri di depan mengambil keputusan tanpa konsultasi dulu dengan Allah.
Ketika timbul persoalan, barulah Allah dimintai bantuan dengan berbagai macam dalih yang bersifat memaksa agar Allah segera turun tangan menolongnya.

RENCANA VERSUS REALITA

Seringkali dalam kenyataannya, apa yang sudah dipersiapkan tidak selamanya sesuai dengan tujuan yang hendak kita capai.
Kita boleh berencana namun Tuhanlah yang menentukan hasilnya.

Pengkhotbah 8:17
maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya.
Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya. Kita tidak dapat menyelami apa maksud Allah dibalik semua peristiwa hidup kita namun kita percaya bahwa bila waktu Tuhan telah tiba maka semuanya baik adanya.

Pengkhotbah 3:11
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Belum tentu apa yang nampaknya buruk maka hasilnya buruk pula karena rancangan Allah tidak mudah dipahami oleh orang beriman namun kurang dekat hubungannya dengan Allah.
Seperti contoh berikut ini mengenai YUSUF anak YAKUB.
Yusuf mengalami banyak penderitaan dimulai ketika ia dicebur ke lobang sumur oleh saudara2nya dan kemudian dijual ke Potifar orang Mesir. Yusuf di penjara karena di fitnah oleh istri Potifar. Yusuf juga dikhianati oleh Juru Minum. Hingga tiba waktunya, Allah mengubah hidup Yusuf dari seorang budak menjadi orang nomor 2 setelah Raja Firaun di Mesir.
(baca selengkapnya kitab Kejadian pasal 37 s/d pasal 50)

Ternyata ada maksud Allah di balik penderitaan Yusuf
Yusuf dipersiapkan Allah untuk menggenapi janji Allah membuat umat Israel terhindar dari bencana kelaparan. (baca selengkapnya Mazmur 105:1-25).
Mazmur 105:17-19
diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak.Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya.

KESIMPULAN 

- Persiapkanlah diri kita dan Berserahlah kepada Allah.
- Temukanlah apa visi dan misi hidup kita yang Allah kehendaki
- Kerjakanlah semua yang telah direncanakan dengan segenap hati
- Fokuslah dengan jalan yang sesuai dengan rencana Allah
- Pergunakanlah segala karunia yang Tuhan telah berikan
- Bersabarlah menanti penggenapan janji Allah

Yakobus 1:3-4
sebab kamu tahu, bahwa : ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

Jika kita berada dalam kegelapan yang paling gelap janganlah putus asa sebab sebentar lagi fajar menyingsing terang benderang akan segera menyingkap kegelapan.
Allah selalu siap menggendong kita sebab IA tak akan membiarkan kita sendirian ...

GOD has Gifts for you :
1. A LIGHT For Every Shadow
2. A PLAN For Every Tomorrow
3. A KEY For Every Problem
4. A JOY For Every Sorrow
ENJOY GOD’S GIFTS EVERYDAY


Salam Sejahtera Selalu,
Surya Darma

Senin, 09 April 2012

PETRUS BERJALAN DIATAS AIR

PENDAHULUAN

Kita harus fokus dan bersandar kepada Tuhan adalah solusi terbaik jika kita mau menyelesaikan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini selain kita juga harus berupaya semaksimal sesuai talenta dan bagian yang menjadi tanggung-jawab kita masing-masing. 

Apa yang terjadi pada ke sebelas murid Yesus yang sering melihat dan mengalami berkali-kali mukjijat yang dibuat Yesus namun berkali-kali pula iman mereka jatuh bangun.

Baru saja menyaksikan mukjijat penggandaan 5 roti dan 2 ikan yang mampu memberi makan lebih 5000 orang, bahkan masih ada sisanya 12 bakul.
Dan ketika Yesus tidak bersama dengan mereka dalam perahu dan terjadi angin sakal, iman mereka tergoncang. Demikian juga yang sering kita alami di kehidupan kita.
Berulang kali kita menerima anugerah kasih Tuhan berupa berkat jasmani maupun berkat rohani namun ketika muncul satu persoalan hidup, kita menjadi panik dan iman kita menjadi kerdil. Biasanya persoalan hidup yang sering membuat kita ketar-ketir adalah menyangkut masalah keuangan.

Ada 2 (dua) respon dari harta yang ada pada kita, yaitu :

Respon Pertama

Ketika persediaan keuangan kita masih cukup apalagi berkelebihan terasa hidup ini indah sekali dan tidak jarang sebagian orang menjadi terlalu percaya diri (=over-confident) dan cenderung mengklaim harta yang ada padanya adalah hasil jerih payahnya sehingga tanpa disadari mulai menjauh dari ketergantungan kepada Tuhan.
Ke gereja seminggu sekali saja sudah mulai ditinggalkan karena kalah oleh kepentingan "meeting bisnis" yang lebih berguna baginya apalagi menyediakan waktu membaca Injil dan bacaan rohani lainnya dan berdoa mendadak menjadi sesuatu mubazir dalam hidupnya.

Ingatlah apa yang dikatakan firman berikut ini :
Ulangan 8:17-18a
Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan

Respon Kedua

Ketika persediaan keuangan kita sudah menipis apalagi sudah minus hidup ini terasa berat sekali dan segala sesuatu yang ada disekitar kita terasa sangat tidak menyenangkan dan sepanjang hari diliputi kekhawatiran,kebimbangan, keputus-asaan,ketakutan,kesedihan dan pada akhirnya ketidak-percayaan lagi kepada Tuhan.
Sebelumnya rajin ke gereja seminggu sekali, bahkan rajin berdoa, membaca firman, ikut pendalaman iman melalui persekutuan doa, aktif dalam pelayanan namun tanpa disadari mulai meninggalkan semuanya itu dan terasa mubazir saja karena kecewa kepada Tuhan.

Mulai mengklaim kepada Tuhan, manakah janjiMU ? dan kata-kata "mengapa, Tuhan"
seringkali mendayu-dayu diucapkan hampir setiap saat.

- mengapa Tuhan, orang lain jelas-jelas korupsi dan menjalankan bisnisnya menyuap sana-sini dan melakukan pekerjaan memanipulasi -> keuangan mereka semakin bertambah dan berkelimpahan

- mengapa Tuhan, orang lain jarang ke gereja bahkan paling hanya ke gereja saat natal dan paskah (makanya gereja lebih penuh sesak saat natal dan paskah) keluarga mereka sehat-sehat saja sedangkan kami yang rajin dan tekun beribadah sering mengalami sakit penyakit ... baru saja sembuh dari demam berdarah, sekarang masuk rumah sakit lagi kena penyakit tipus.

- mengapa Tuhan, orang lain pintar ngomong bahkan tidak jarang menjilat orang tetapi karir mereka sukses dan sering dipuji banyak orang sedangkan kami sering tersisihkan dan luput dari perhatian orang lain apalagi mengharapkan dapat pujian ibaratnya bagaikan pungguk merindukan bulan.

- mengapa Tuhan, orang lain begitu mudahnya mendapat rejeki sedangkan kami sudah bekerja siang-malam bahkan meninggalkan anak-anak kami sama pembantu tetapi penghasilan kami tetap saja tidak mencukupi kebutuhan sebulan. dan masih banyak mengapa lainnya dan mengeluh ... mengapa ya Tuhan semua ini harus terjadi pada diri kami?

Mazmur 22:1-2
Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang.

Mazmur 13:1-3
Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?
Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?
Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?
Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku!
Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati.

Pada bagian inilah yang paling banyak dialami oleh sebagian orang beriman yang sering menjadi pertanyaan : apa yang menjadi penyebab kehidupan orang beriman "seringkali mengalami kekalahan" padahal hidup mereka sudah berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan namun kelimpahan berkat seperti fatamorgana dalam hidup mereka.

Bukankah Petrus juga mulai tenggelam ketika ia justru sedang dekat dengan Yesus ? demikian halnya kita orang beriman percaya kepada Yesus tetapi kita juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami Petrus, yaitu "kita tenggelam" mengalami kegagalan pada saat iman kita sedang bertumbuh ?

BAGAIMANA KITA DAPAT BERJALAN DIATAS AIR

Mari kita membaca dan merenungkan lebih dalam lagi bacaan Injil Matius 14:22-33 agar kita dapat belajar dan mengalami seperti yang Petrus alami yaitu berjalan diatas air dan mengambil hikmatnya dari ke-tenggelam-nya Petrus sebelum ditolong Yesus dan kita yakini Petrus kembali dapat berjalan diatas air sambil digandeng tangannya oleh Yesus untuk kembali ke perahu.

Proses berjalan diatas air ini lebih ditekankan kepada kehidupan orang beriman yang sudah percaya kepada Yesus sekian lamanya.
Jadi bukan orang yang baru percaya kepada Yesus (meskipun mungkin saja terjadi).

Mempunyai iman saja tidak cukup jika tidak disertai dengan perbuatan.
(Yakobus 2:19-26)

Ada beberapa tingkatan iman (saya kutip dari berbagai sumber)
1. Knowledge Faith (= Iman Pengetahuan)
2. Believing Faith (= Iman Percaya)
3. Trusting Faith (=Iman Penyerahan)
4. Expectant Faith (=Iman Penuh Harap)

Ada 3 hal pokok yang harus kita miliki agar dapat berjalan diatas air :

1. Jadilah tanah yang subur ketika menanggapi Firman yang kita dengar.

Sekian lamanya kita membaca firman atau mendengar firman yang disampaikan Pastor, Pewarta atau dari orang lain namun hati kita belum tergerak untuk memulai menjadi pelaku firman.
Berapa banyak orang mengangguk-angguk setuju ketika firman disampaikan tetapi seringkali dalam hatinya dia berpikir bahwa firman ini cocok buat suami saya atau cocok buat istri saya atau cocok buat si-anu pokoknya dia berpikir bahwa firman ini bukan untuk dirinya tetapi untuk orang lain. padahal setiap firman yang kita dengar atau baca sesungguhnya ditujukan buat diri kita sendiri, bukan buat orang lain.
Banyak orang cenderung menjadi pembawa berita firman buat orang lain tetapi firman itu tidak bergema di hatinya sehingga orang lain mengalami perubahan dalam hidup beriman sedangkan dirinya dari tahun ke tahun begitu saja bahkan suatu kali akan mengalami kekeringan iman.

1 Korintus 9:27
Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Mengapa banyak orang tidak berani meresponi firman Tuhan tetapi lebih senang hanya mendengar saja dan memperbincangkan firman sebagai pengetahuan saja ?
a) tidak berani dan tidak mau mengambil resiko sebab konsekwensi dari firman itu biasanya lebih banyak kita "harus memberi" misalnya kita harus memberi waktu kita, tenaga kita, perhatian kita    bahkan memberi uang sedangkan kita lebih cenderung maunya menerima daripada memberi.

b) malas dan enggan meninggalkan comfort zone (=zona kenyamanan) banyak dalih dilontarkan, jika kita sedang asyik menikmati kesenangan yang sedang kita alami untuk beranjak ke hal-hal lain yang kurang kita sukai apalagi dipanggil untuk melayani orang lain yang jelas2 akan merepotkan atau merugikan kepentingan pribadi.

c) pengalaman masa lalu yang membuat kita kurang percaya diri akan kemampuan kita orang yang mengalami banyak kegagalan dalam hidupnya, biasanya menarik diri dari pergaulan dengan sesama apalagi diminta untuk terlibat dalam pelayanan, sulit !
Rasa minder akan keadaan dirinya dan rendahnya tingkat kepercayaan dirinya membuat orang tersebut tidakberani meresponi firman bahkan tidak heran sebagian menjadi mundur imannya oleh karena kekecewaan kepada Tuhan yang dianggapnya tidak adil pada dirinya.

Menjadi tanah yang subur berarti :

a) Kita percaya dan yakin setiap firman yang ditaburkan pasti akan menggenapi janji Allah

Yesaya 55:11
demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang   Kusuruhkan kepadanya.

Yesaya 48:18
Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu
akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti

 b) Berbuat banyak kebaikan sesuai kehendak Tuhan.

Kebaikan yang kita kerjakan hendaknya tulus dan tanpa pamrih semata-mata ungkapan syukur atas kasih Tuhan yang sudah kita peroleh sepanjang hidup kita.
Yohanes 15:10
Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Sungguh sangat disayangkan, sebagian orang berbuat kebaikan untuk kepentingan diri sendiri bahkan lebih menyedihkan lagi memanipulasi perbuatan baik pelayanan dengan motivasi pribadi.
Roma 16:18
Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya.

 c) Hendaknya kita berbuah lebat dan nama BAPA dipermuliakan

Yohanes 15:8
Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku
Yohanes 15:16b
supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu.

2. Milikilah level iman penuh harapan (=Expectant Faith)

Usahakanlah melalui proses pertumbuhan iman dan capailah serta milikilah iman yang penuh harapan sebab level iman seperti inilah yang membuat janji-janji Tuhan digenapi dalam hidup kita.
Matius 17:20
 ... Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, —maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

Petrus memiliki level iman seperti ini, mari kita simak :
Matius 14:26-28
ketika semua murid melihat Yesus berjalan diatas air ditengah angin sakal mereka ketakutan dan mengira itu adalah hantu. Yesus segera menenangkan mereka. artinya setelah mendengar suara Yesus, murid-murid menjadi tenang dan tidak berbuat apa-apa kecuali Petrus yang menanggapi suara Yesus bahkan bukan sekedar menanggapi saja melainkan berbuat sesuatu keluar dari perahu menyambut undangan Yesus sedangkan murid lainnya tidak meresponi dan tidak berani melangkah.

Matius 14:28-29
lalu Petrus berseru dan menjawab Dia:
"Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."
Kata Yesus: "Datanglah!"
Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

Jujur kita masing-masing menjawab pertanyaan berikut ini :
Jika kita ada dalam perahu seperti yang dialami murid-murid Yesus,
apakah kita berani keluar dari perahu dan menghampiri Yesus berjalan diatas air ditengah badai angin sakal ?
Saya merenungkan dan menjawab : " Saya tidak berani keluar dari perahu"
bagaimana dengan anda ?

Coba bayangkan situasi yang terjadi pada saat itu ...
a) adalah sesuatu yang tidak pasti untuk berani mencoba keluar dari perahu
b) tidak berani mengambil resiko baca kembali penjelasan diatas mengenai :
Mengapa banyak orang tidak berani meresponi firman Tuhan Tetapi jangan kecil hati, jika kita terus mengandalkan Tuhan dan hidup dalam kebenaran firman Tuhan, niscaya pertumbuhan kita meningkat dan mencapai level iman penuh harapan sehingga kita juga dapat melangkah keluar dari perahu kehidupan kita dan berjalan diatas bersama Yesus.

3. Fokus dan arahkan mata iman kita hanya tertuju pada Tuhan saja


Hendaklah mata hati dan segenap pikiran kita hanya tertuju pada Tuhan saja dan dalam segala perbuatan kita hanya mengandalkan DIA saja.
Mazmur 141:1-3,8
Ya TUHAN, aku berseru kepada-Mu, datanglah segera kepadaku, berilah telinga kepada suaraku, waktu aku berseru kepada-Mu! Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang. Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku! Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!

Namun Kita sering dijangkiti "penyakit lupa" mengingat kebaikan Tuhan yang sudah kita alami sebelumnya. Sama seperti murid-murid Yesus yang sering menyaksikan Yesus melakukan mukjijat namun iman mereka masih saja belum bangkit sehingga Yesus mengatakan seperti ayat 31b : "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Secara umum ada 3 hal yang membuat fokus kita beralih dari kehendak Tuhan :
a) Keinginan Daging : suatu keinginan manusia yang selalu ingin dipuaskan oleh hawa nafsunya dan semata-mata hal-hal kesenangan duniawi.
b) Keinginan Mata : suatu keinginan manusia yang tidak mudah dipuaskan bahkan cenderung memiliki sifat ketamakan, kerakusan, dan selalu ingin memiliki semuanya.
c) Keangkuhan Hidup:  suatu sikap manusia yang ingin menonjolkan kehebatan dirinya dibandingkan dengan orang lain bahkan terhadap Tuhan sekalipun.

1 Yohanes 2:15-17
Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu - keinginan daging - keinginan mata - keangkuhan hidup bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

KESIMPULAN

Kita harus mawas diri, jangan sampai tingkat iman yang kita miliki sekarang ini menjadi stagnan bahkan mungkin menjadi mundur kembali oleh hal-hal lain yang membelokkan fokus kita dari Tuhan agar supaya kita dapat berjalan bersama dengan Yesus berjalan diatas air yang berarti dalam meniti perjalanan hidup ini kita mengalami mukjijat Tuhan dan memperoleh kemenangan dari waktu ke waktu, dari satu level ke level berikutnya sehingga kita menjadi kuat dan menjadi yakin dan berani mengatakan bahwa : AKU SUDAH BERJALAN DIATAS AIR BERSAMA YESUS 

Anggaplah kegagalan kita seperti "tenggelam" yang dialami Petrus sebagai acuan bagi kita untuk lebih mendalami mempelajari prinsip-prinsip kebenaran sesuai kehendak Tuhan yang memungkinkan kita berani melangkah keluar dari belenggu dosa dan menyambut undangan Yesus : DATANGLAH dan kita segera datang kepada Yesus.

Demikian renungan ini kita endapkan dalam iman kita dan segeralah kita mengambil keputusan untuk mengikuti jejak Petrus berjalan diatas air dan apabila sekali waktu kita tenggelam maka berteriaklah : "TUHAN, TOLONGLAH AKU!" dan yakinlah Yesus segera menolong kita. Amin.


Salam Sejahtera Selalu,
Surya Darma