Kamis, 19 September 2013

KASIHAN, YACH ....











Setiap orang pada dasarnya memiliki hati nurani yang lembut.
namun oleh karena dipengaruhi masa lalu yang tanpa disadari telah melukai hati nuraninya, merubah perilaku seseorang menjadi tega menyaksikan penderitaan orang lain.

Perasaan kasihan masih menggayut dihati tetapi hanya sebatas dimulut saja diungkapkan melalui ucapan :
"kasihan ya ..."
tidak disertai perbuatan nyata untuk menolong orang lain tersebut.
bahkan tidak jarang menghakimi orang lain yang hidupnya menderita.

contoh sederhana saja disekitar kita.
ketika melihat keadaan hidup saudara kandung, ipar, paman-bibi, family, atau bisa juga teman, sahabat kita biasanya hati nurani pasti tergerak belas kasihan dan spontan berkata :
"kasihan ya ... si anu"

setelah hati terenyuh, respon berikut terbelah dua bagian positif dan negatif;  ada yang segera bertindak menolong, ada yang mau menolong tetapi ga punya uang, ada yang langsung menghakimi, menyalahkan orang tersebut, dsbnya.

Pertanyaan adalah bagaimana dengan saya ...(sebut nama kita)?

Tidak heran jika ada saudara kita atau teman/sahabat kita menolak hadiri pertemuan keluarga atau semacam reuni (apalah nama reuninya).

Fenomena ini bisa kita saksikan, baik di kegiatan sekular maupun rohani.
Paling miris jika terjadi dilingkungan yang bernuansa rohani, apalagi di kegiatan pelayanan.

Tanpa disadari akan terpisah dengan sendirinya antara orang yang banyak uang dengan yang pas2an dan yang kekurangan uang.

Saya kutip secuplik renungan harian yang ditulis Rm. Marja,Sj

mayoritas seminaris di Seminari Mertoyudan yg tumbuh berkembang panggilannya menjadi imam dengan baik pada umumnya mereka yang berasal dari keluarga miskin atau berkekurangan, sedangkan mereka yang berasal dari keluarga kaya sungguh bermasalah, sulit dididik dan akhirnya mengundurkan diri atau harus diundurkan.

Yach begitulah Manusia ...
karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23)

Kasih itu wujud nyata HATI ALLAH
Ego itu wujud nyata hati manusia.

sejak Adam-Hawa menghindar dari hati nuraninya (yang jelas sudah melarang mereka makan buah pengetahuan baik dan jahat) maka kita keturunan mereka juga ikut terjangkit virus Ego yang lebih mementingkan keinginan sendiri daripada patuh pada perintah Allah.

Kejadian 3:6
Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

Selanjutnya
kita sebagai keturunan Adam-Hawa pandai meniru memyembunyikan diri dari perbuatan salah & bersandiwara berpura-pura tidak bersalah seperti bersembunyi diantara pohon2-an dalam taman.

Kejadian 3:8
Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

JADI

Perasaan belas kasihan dalam hati kita seringkali tertutupi pohon2an yang melambangkan aneka ragam prinsip hidup kita yang bercokol di kepala kita, di pikiran kita.

Itu sebabnya tindakan nyata berbuat sesuatu untuk menolong sesama kita terhalangi oleh prinsip hidup kita.

celakanya prinsip hidup terbentuk oleh pengalaman hidup yang lalu yang sudah kita lewati.

KITA BERSYUKUR
Sebab di dalam Yesus dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya
(Efesus 1:7)

Rasul Paulus menasehati kita:
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)

supaya pikiran kita diubah menjadi serupa pikiran Allah maka kita harus membuang pikiran/konsep/prinsip duniawi yang tidak berlawanan dengan konsep Allah yg menonjolkan kasih sehingga hati kita berubah menjadi hati nurani yang sarat dgn belas kasihan, berlimpah welas asih.

Dengan demikian, kita tidak lagi sekedar berucap : "kasihan ya ..."
tetapi sekarang disertai dengan perbuatan nyata yakni menolong orang lain didasari motivasi tulus yang didorong hati yang berbelas kasih dan hati yang murah hati.
AMIN.

 

Jumat, 09 Agustus 2013

SIKAP RAGU-RAGU















Setiap insan di bumi ini mengalami "penyakit rohani", salah satu yang sulit dihindari adalah sikap ragu-ragu.
Kelihatannya sepele atau bahkan tidak semua orang setuju bahwa sikap ragu-ragu dikatakan salah satu "penyakit rohani"

Sikap ragu-ragu mencerminkan iman seseorang. Benarkah demikian ?

Sikap ragu-ragu secara umum berarti tidak yakin pada keputusan yang telah diambil atau telah diputuskan.
akibatnya akan mempengaruhi tujuan yang hendak dicapai.

Sikap ragu-ragu secara rohani dapat diartikan bahwa ia tidak yakin Tuhan akan menolongnya meskipun percaya pada Tuhan.

Sikap ragu-ragu membelenggu seseorang dalam ketidak-pastian sehingga menghambat pertumbuhan dirinya, baik dalam hal iman maupun kehidupannya.

Bagaimana sikap kita meresponi setiap peristiwa hidup mencerminkan seberapa dalam iman kita bertumbuh dan menghasilkan buah-buah roh.

Tuhan tidak menguji iman kita untuk mengetahui seberapa kuat iman kita melainkan Tuhan mau lihat apakah iman kita bertumbuh dan semakin setia kepadaNYA.

Selanjutnya,

Setelah kita mengetahui penyebab yang mempengaruhi sikap ragu-ragu tetapi mengapa kita kewalahan mengatasinya dan tidak jarang kita mengalami "kekalahan" ?

BAGAIMANA CARA KITA SELALU MENANG MELAWAN SIKAP RAGURAGU

1. GALI & TINGKATKAN POTENSI DIRI

Tidak ada jalan pintas jika kita mau meningkatkan potensi diri; baik itu pengetahuan berdasarkan akal budi maupun pengetahuan rohani kita.
Bagaimana kita mau berhasil jika tak mau tahu fokus dan ogah-ogahan.

Amsal 6;6-8
Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.

Pemalas disini tidak terbatas pada sikap malas saja tetapi dapat juga diartikan tidak mempersiapkan diri menghadapi kenyataan bahwa dalam hidup ini kita PASTI berhadapan dgn berbagai macam tantangan dan pencobaan yang akan menguji iman.

Tuhan memperlengkapi diri kita dgn menganugerahkan talenta, karunia2 kepada setiap pribadi kita maing2.
Tugas kita meresponi anugerah tsb dengan cara ada niat mau belajar dan mau mempraktekkan anugerah tadi.

Yesaya 55:1
Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!

Itu sebabnya Yesus mengucapkan : Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran (Matius 5:6).

Banyak orang sudah merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya dan enggan bersusah payah meraih kebenaran dari Tuhan.
mereka pikir konsep kebenaran yang dipegangnya sudah yang terbaik padahal seringkali bertentangan dgn apa yang Tuhan kehendaki.

Wahyu 3:17-18
Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka

Aku menasihatkan engkau, supaya :
- engkau membeli dari pada-Ku emas
  yang telah dimurnikan dalam api,
  agar engkau menjadi kaya, dan juga
  pakaian putih, supaya engkau
  memakainya, agar jangan kelihatan
  ketelanjanganmu yang memalukan;
  dan lagi minyak untuk melumas
  matamu, agar engkau dapat melihat


Kita gali semua potensi diri kita agar berguna bagi pertumbuhan iman kita dan dapat digunakan dalam tugas2 panggilan kita memberitakan kabar sukacita dari Yesus Kristus dan juga membantu kita melayani sesama.

2. BANGUN RELASI INTIM DG TUHAN

Kita harus memahami sifat Tuhan agar keragu-raguan berubah menjadi keyakinan bahwa Tuhan mengasihi diri kita sepenuhnya.

memahami sifat Tuhan itu tidak mudah karena banyak hal yang tidak kita mengerti, yang sejalan dengan nalar kita jika tidak mengetahui apa yang dikatakan Tuhan yang tertulis di Alkitab meskipun IA juga bisa bicara langsung secara pribadi kepada kita.

Ada 4 langkah yang harus dilakukan untuk membangun relasi dgn Tuhan:
1. bacalah Firman Tuhan di Alkitab
2. renungkan dan resapi hingga
    membekas dan menjadi rhema
3. penuhi pikiran dan hati kita dgn
    apa yang Firman Tuhan katakan
4. hidupi Firman Tuhan dan kerjakan

setelah itu lihatlah banyak perubahan yang terjadi dimana pola pikir kita mulai sejalan dengan yang Tuhan kehendaki. Tentu saja hati kita otomatis berubah menjadi welas asih.

3. YAKINLAH PADA TUHAN SAJA

Sepertinya mudah yach kita katakan bahwa kita sudah mempercayai dan yakin kepada Tuhan.

Romo Anton menggaris-bawahi kata2 percaya dan mempercayai dalam homilinya misa pagi hari ini ketika bicara mengenai Tomas Didimus yg dikenal sikap ragu-ragunya untuk mempercayai Yesus yang tertikam di lambungnya sudah bangkit.

Yohanes 20:25
Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."

Memang
Percaya saja tidak cukup jika tidak dibarengin dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Ada orang yang sulit menyerahkan kendali hidupnya kepada Tuhan, terutama masalah keuangan.
Mungkin dipikirannya bahwa Tuhan tidak campur tangan urusan bisnis atau pekerjaan kita di duniawi.

Lihat saja perilaku orang yg berbeda antara di gereja dengan di kantor ato di dunia bisnis.
kata orang : urusan bisnis tidak bisa dicampur aduk dengan urusan gereja maksudnya urusan iman.

Sebaliknya ada juga orang yang sulit mempercayai hidup ditangan Tuhan karena terlalu sering doa-doanya belum dijawab Tuhan.
Bahkan mereka beranggapan bahwa Tuhan tidak peduli nasib mereka.

Orang yang hidupnya menderita secara materi, sangat rentan pada kepercayaan dirinya dan berpengaruh pada jiwanya dan imannya juga.
sebagian malah berbalik "benci" pada Tuhan, kenapa tidak menolongnya.

Orang yang hidupnya bergelimangan harta, sangat rentan pada keyakinan diri berlebihan bahkan mulai pudar keyakinannya kepada Tuhan karena tanpa pertolongan Tuhan, hidupnya makmur dan sejahtera.

JADI

Percayalah dan Yakinlah pada Tuhan tergantung seberapa dalam minat ketertarikan kita menyerahkan diri dan hidup kita, SEPENUHNYA kepada pengaturan dan pemeliharaan Tuhan.

Semakin kita dengan sadar mau menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan maka sikap kita tidak akan ragu-ragu menghadapi apapun peristiwa yang terjadi dalam hidup ini

Itu butuh IMAN dan PENGOSONGAN DIRI,  barulah sikap ragu-ragu hilang dari hati dan pikiran kita.

Sekian dan semoga menjadi bahan permenungan diri kita masing2.


Rabu, 10 Juli 2013

TUGAS PERUTUSAN













Bacaan Injil hari ini Selasa 10Juli 2013 mengingatkan kepada kita 
sebagai murid-murid Yesus (seperti ke 12 rasul) diutus untuk:
 
Pertama
mengajak kembali orang-orang yang meninggalkan imannya.

Matius 10:5-6
kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.

Kedua
memberitakan Kerajaan Sorga sudah dekat kepada orang beriman yang "hilang" dari kesatuan gereja.

Matius 10:7
pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.

APA MAKNA BACAAN INJIL HARI INI BAGI KITA?

Abraham Maslow mengatakan bahwa kebutuhan dasar manusia meliputi kebutuhan :
1. fisioloogis (makan,tidur,oksigen,dll)
2. rasa aman dan perlindungan
3. rasa cinta, memiliki dan dimiliki
4. harga diri
5. aktualisasi diri
jika salah satu dari ke 5 kebutuhan tersebut "tidak terpenuhi" maka pribadi bersangkutan mengalami ketidak-seimbangan dalam hidupnya.

perkataan Injil tentang :
domba-domba yang hilang dari kaum Israel bisa diartikan bahwa banyak orang beriman mengalami kegoncangan iman sehingga mereka menjadi tidak mempercayakan hidupnya dalam genggaman Tuhan.

kalo kita kaitkan dengan pandangan Abraham Maslow maka kita segera mengetahui penyebab orang beriman meninggalkan iman kepercayaannya.

kita bisa menguraikan kemungkinan penyebabnya dari ke 5 faktor dasar kebutuhan manusia, sekalipun ia sudah percaya kepada Tuhan.

Ada 2 sisi yang perlu diwaspadai :
1. mawas diri kita sendiri
2. mengajak orang lain agar waspada
terhadap serangan kebutuhan dasar yang akan menggerogoti iman.

JADI

Kita manusia cenderung "kalah" jika ragu-ragu, bimbang, dan sudah tidak mengandalkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita sehari-hari.

Sudah banyak terbukti sejak dahulu kala, justru orang beriman menjadi target utama si "Jahat" agar tersesat bahkan hilang dari iman percayanya.

INJIL HARI INI MENGINGATKAN :

PERTAMA
agar kita mawas diri sendiri & berpaut hanya kepada kebenaran Tuhan saja melalui bacaan Alkitab maupun pesan Tuhan kepada masing2 pribadi.

Mazmur 119:105
Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

Mazmur 18:28
karena Engkaulah yang membuat pelitaku bercahaya; TUHAN, Allahku, menyinari kegelapanku.

KEDUA
agar kita mencari & mengajak sesama kita untuk kembali kepada Tuhan

2 Timotius 4:2
beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

KETIGA
agar kita tidak jemu-jemu beritakan Injil Kerajaan Sorga melalui perkataan dan perbuatan kita sehari-hari.

1 Korintus 9:16
karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.

Galatia 6:9
janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

Demikian Injil hari ini menjadi refleksi bagi kita agar tidah hanya didengar melainkan segera dikerjakan. Amin