Senin, 23 September 2019

BERTEKUNLAH DALAM FIRMAN TUHAN

Senin, 23 September 2019

EZRA 1:1-6 
MAZMUR 126:1-6 
LUKAS 8:16-18 

Lukas 8:18 
Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya." 

Ayat Firman Tuhan ini mesti kita cermati sungguh-sungguh agar tidak salah paham mengartikannya atau memaknainya. 

Terkesan seperti berbicara soal materi atau yang/harta dunia dan ada ketidak-adilan sebab yang mempunyai (uang) koq malah akan diberi sedangkan yang tidak mempunyai (uanh) malah akan diambil. 

Meskipun memang kenyataannya terlihat orang yang banyak uang (=orang kaya) lebih mudah memperoleh kesempatan untuk mendapatkan banyak uang dan orang miskin sukar mencari uang. 

Terapi pemahaman ini keliru sebab Yesus sebelumnya mengatakan bahwa jangan kita mengumpulkan harta di bumi karena banyak ngengat, karat, dan ada pencuri tetapi kumpulkan harta di Sorga pada Matius 6:19-20 lalu Yesus mengingatkan bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada Tuhan dan kepada mamon (=uang). 

Artinya kalimat mempunyai atau tidak mempunyai, bukan berbicara hal uang. 
Kalau begitu berbicara mengenai apa? 

Kita baca ayat sebelumnya supaya kita tahu ayat 18 ini membahas hal apa. 

Lukas 8:16 
Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya

Pelita adalah Firman/Sabda Tuhan 
Pelita itu mengeluarkan cahaya terang dan menerangi kegelapan. 

Yohanes 1:5.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

Terang itu adalah Yesus Kristus. 

Yohanes 1:9 
Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. 

Menyalakan pelita artinya memberitakan Firman Tuhan. 

Lalu kita perhatikan ayat berikutnya, 
Lukas 8:17 
Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. 

Firman Tuhan adalah Sabda/Perkataan Tuhan dinyatakan kepada kita manusia. 

Tergantung kepada kita; apakah mau mendengar Firman/Sabda Tuhan atau tidak mau mendengar. 

Darisini kita mengerti sekarang bahwa barangsiapa mau mendengar Firman atau Sabda Tuhan maka ia akan diberi Tuhan tentang pengetahuan dan rahasia yaitu rahasia Kerajaan Allah. 

Roma 14:17 
Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. 

1 Korintus 4:20 
Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa. 

Orang yang tidak mau mendengar Firman Tuhan berarti imannya tidak bertumbuh dan bila terus menerus tidak mendengar Firman Tuhan maka imannya bisa mati. 

Ini maksudnya dari bagian kedua ayat 18: 
siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya." 

Semula imannya muncul ketika ia dibaptis karena belajar katekese tetapi dengan berjalannya waktu, imannya tidak tumbuh segitu saja pengetahuan Firman Tuhan yang diketahuinya saat masih katekese dan akan dimakan oleh pengetahuan dari dunia berupa prinsip hidup menurut dunia dan tidak hidup dari kebenaran Tuhan. 

Firman Tuhan kita dengar hendaklah dibagikan pada orang lain agar mereka juga mendengar Firman Tuhan dan dapat mengetahui pengetahuan Firman Tuhan. 

Sebagian umat kristiani, khusunya umat katolik tidak tertarik mendengar Firman Tuhan dengan alasan; yang penting saya ke gereja setiap minggu sudah cukup karena misa ekaristi adalah puncak iman dan merasa tidak membutuhkan untuk mendengar Firman Tuhan. 

Pemberitaan Injil atau Firman Tuhan hanya sebatas bacaan di misa ekaristi dan paling jauh baca renungan harian tetapi sedikit sekali mau membaca dan mendengar Firman Tuhan untuk didalami hingga menemukan makna terdalam dari Firman Tuhan. 

Kebanyakan orang lebih sering mau mendengar pengetahuan dari dunia, misal tentang kiat-kiat menjadi orang sukses, rela bayar jutaan sampai puluhan juta rp. 

Memang tidak mudah memahami Firman Tuhan bila hanya sekilas membaca dan mendengarNya tetapi bila dengan tekun kita menggaliNya dan memohon Hikmat Tuhan maka kita akan menemukan arti dan maksud dari Firman Tuhan tersebut. 

Padahal di dalam Firman Tuhan, kita bisa mendapatkan jalan keluar dari masalah hidup yang kita hadapi. 

Firman Tuhan itu menyembuhkan dan menolong serta memulihkan keadaan hidup kita bila kita berpegang teguh pada Firman Tuhan. 

Mazmur 126:5-6 
Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya. 

Menabur disini salahsatunya adalah kita tekun mendengar, menggali makna dari Firman Tuhan dengan perjuangan keras melawan penolakan kedagingan kita dan melawan kesenangan dan kenikmatan dunia yang selalu menggoda kita. 

Menuai disini maksudnya bila kita mampu mengatasi semua itu maka kita beroleh ketenangan, damai sejahtera Tuhan dan kasih Tuhan dalam hidup kita. 

Dalam bacaan pertama dari kitab Ezra, dapat kita ketahui bagaimana perjuangan bangsa Israel membangun kembali Bait Allah yang telah hancur. 

Hal ini dapat dikatakan bangsa Israel menabur benih dengan pengorbanan menyerahkan segala kepunyaan harta dunia yang mereka miliki untuk biayai pembangunan Bait Allah. 

Mereka akhirnya menuai hasilnya setelah Bait Allah selesai dibangun sebagai tempat beribadah dan salahsatunya bisa mendengar Firman Allah. 

Kita yang hidup di jaman sekarang ini sangat dimanjakan fasilitas yakni gereja tempat kita beribadah tersedia dan kita bebas mendengar Firman Tuhan di gereja 

Namun mengapa masih banyak yang tak mau atau alasan tidak sempat ke gereja karena lebih memilih hal-hal dunia yang memberikan kita mendapatkan uang, kesenangan dunia sedangkan di gereja beranggapan hanya mendengar Firman Tuhan dan janji-janji Tuhan. 

Semoga kita menyadari betapa penting kita mendengar Firman Tuhan agar kita semakin bertumbuh iman kita supaya menjalani hidup ini sesuai dengan prinsip kebenaran Tuhan dan bukan prinsip kebenaran dunia. 

Amsal 3:5-6 
Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. 


Salam Kasih, 
Surya Darma 

Minggu, 22 September 2019

SIAPAKAH ORANG SAKIT DIMAKSUD YESUS?


Sabtu, 21 September 2019

1 TIMOTIUS 
MAZMUR 19:2-6 
MATIUS 9:9-13 

Matius 9:13 
Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. 

Hari ini Gereja Katolik memperingati pesta St Matius Rasul dan Penginjil. 

Bacaan Injil hari ini, kembali orang Farisi mengkritik Yesus bergaul dengan orang berdosa dan pemungut cukai bahkan makan bersama dengan mereka. 

Matius 9:10-11 
Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-muridNya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" 

Kita sudah tahu orang Farisi dan juga ahli Taurat mengklaim diri mereka paling benar, paling taat, dan paling bersih/suci padahal hanya di permukaan saja supaya dilihat dan dipuji orang. 

Kita lihat bagaimana Yesus menanggapi kritikan orang Farisi dengan mengatakan: 

Matius 9:12 
Yesus mendengarnya dan berkata: bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. 

Siapakah orang sakit yang dimaksud oleh Yesus? apakah pemungut cukai dan orang berdosa ataukah orang Farisi?.
Ataukah berlaku umum yakni siapa saja orang sakit memerlukan tabib/dokter. 

Sakit itu ada yang sakit tubuh jasmaninya dan yang sakit rohaninya. Kita menyoroti dari sisi orang yang sakit rohani 

Sakit rohani lebih berbahaya daripada sakit tubuh jasmani bahkan bisa terjadi sakit tubuh jasmani diakibatkan oleh rohaninya sakit. 

Sakit rohani disebabkan rohnya sakit akibat kekurangan asupan makanan dan minuman rohani. 

Mengapa bisa terjadi demikian? 
Karena imannya tidak bertumbuh bahkan ada yang imannya mati. 

Tubuh jasmani mengandalkan nafas dan makanan-minuman jasmani sedangkan rohani mengandalkan nafas rohani dan makanan-minuman rohani. 

Nafas rohani berupa doa dan saat teduh dengan Tuhan dan makanan rohani berupa Sabda/Firman Tuhan tertulis di kitabsuci dan yang tidak tertulis tetapi langsung dinyatakan secara pribadi. 

Sakit rohani mempengaruhi jiwa kita seperti misalnya iri hati, dendam, benci, congkak hati/sombong, dsbnya. 

Orang yang sakit rohaninya, 
sesungguhnya patut dikasihani sebab ia merasa dirinya baik-baik saja padahal telah dalam dirinya jatuh ke jurang maut akibat dosanya yang tidak disadarinya telah berbuat dosa. 

Orang Farisi dan ahli Taurat tidak sadar dirinya berdosa karena merasa dirinya tidak berdosa bahkan menilai orang lain telah berdosa seperti pemungut cukai. 

Bukan hanya menilai orang lain berdosa tetapi mereka bertindak sebagai hakim yang memutuskan orang berdosa harus dihukum mati. 

Bagaimana dengan kita, apakah kita merasa diri kita bersih tanpa dosa dan menilai serta menghakimi orang lain yang kita vonis sebagai orang jahat? 

Justru Yesus mengajarkan kepada kita agar berbelas kasihan kepada orang lain termasuk orang yang telah berbuat dosa dan bukan menghakimi atau menjauhkan diri dari orang tersebut. 

Siapa sih yang tidak berdosa? 
Kita semua orang berdosa ( Roma 3:23) dan kita bersyukur mendapat Anugerah Tuhan mengampuni dosa-dosa kita. 

1 Yohanes 1:9 
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 

Oleh sebab itu hendaknya kita menolong orang lain yang kesulitan melepaskan diri dari belenggu dosa dengan mewartakan bahwa Tuhan mengampuni dosa kita karena Tuhan mengasihi kita manusia. 

Hendaknya kita berbelas kasihan kepada orang lain yang hidup menderita; apakah menderita sakit, menderita kelaparan dan penderitaan hidup lainnya. 

Berulangkali kita dingatkan agar miliki hati yang berbelas kasihan kepada orang lain seperti Hati Yesus yang berbelas kasihan kepada kita manusia. 

Semoga hati kita selalu digerakkan oleh hati yang berbelas kasihan secara nyata melalui tindakan dan perbuatan kita. 


Salam Kasih, 
Surya Darma 


Sabtu, 21 September 2019

BENARKAH KITA MELAYANI TUHAN ?


Jumat, 20 September 2019

1 TIMOTIUS 6:2-12
MAZMUR 49:6-9,17-18,20 
LUKAS 8:1-3

Lukas 8:1b-3 
Kedua belas muridNya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka 

Hari ini Gereja Katolik memperingati Andreas Kim Tae Gon yang berjuang melayani Tuhan sampai akhir hayatnya. 

Banyak contoh dari orang-orang yang tekun melakukan pelayanan rohani hingga rela mengorbankan diri mereka seperti bisa kita baca Injil hari ini, para murid dan perempuan-perempuan yang mendanai keperluan Yesus beserta rombongan dalam melakukan pelayanan. 

Kita bersyukur sekarang ini banyak orang terlibat dalam pelayanan rohani namun ada sebagian orang, motivasinya untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri sehingga pelayanannya dipakai sebagai sarana untuk mencari nafkah dan bisnis. 

Pelayanan rohani haruslah murni dari segala kepentingan diri sendiri termasuk untuk mencari pujian dan popularitas diri 

Apalagi menyebut diri hamba Tuhan, wow keren tetapi apakah betul sikap hamba yang menonjol dari pelayanannya. 

Mari kita samakan dulu arti pelayanan dan tujuan pelayanan di bidang rohani. 

Pelayanan adalah kegiatan/aktifitas melayani orang lain atau sekelompok orang yang memang butuh dilayani. 

Melayani adalah memberi diri membantu atau menolong orang lain tanpa pamrih dengan sukarela tanpa mengharapkan balas jasa termasuk tidak untuk dipuji dan ingatlah kita melayani tetapi bukan kita yang dilayani oleh orang lain. 

Sekarang kita sepakat ya arti pelayanan dan tujuan pelayanan di bidang rohani. 

Coba sekarang kita tanya pada diri sendiri apakah selama ini pelayanan kita sesuai dengan arti dan tujuan pelayanan. 

Jangan-jangan pelayanan kita terselip keinginan mau dipuji orang lain atau mau terkenal menjadi populer, ingin nama kita dikenal banyak orang. 

Jangan-jangan pelayanan kita untuk mendapatkan kuasa atau jabatan di komunitas rohani, di paroki gereja, atau di lingkungan, dsbnya. 

Jangan-jangan pelayanan kita sebagai pekerjaan kita mencari uang untuk biaya keperluan hidup kita. 

Jangan-jangan pelayanan kita untuk promosi produk bisnis kita supaya laris manis laku terjual atau setidaknya dapat memperluas jaringan bisnis kita. 

Jangan-jangan pelayanan kita untuk mengisi waktu senggang atau daripada bengong dirumah supaya banyak teman 

Jangan-jangan pelayanan kita untuk "menyogok Tuhan" agar bisnis kita lancar, sakit kita disembuhkan Tuhan, atau motivasi pribadi lainnya, seperti untuk mendapatkan pasangan hidup, dsbnya. 

Hanya diri kita pribadi dan Tuhan yang tahu motivasi dan tujuan pelayanan kita. 
Tuhan tidak bisa dibohongi, dia tahu kemurnian pelayanan kita. 

Belajarlah dari pelayanan para Rasul, para murid-murid lainnya, orang-orang rohani sebelum kita, yang terbukti tetap setia melayani sampai mati. 

Contoh: Rasul Paulus 

1 Korintus 9:16,18 
Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. 

Mengapa Paulus tidak mau menerima upah atas pelayanannya (=stipendium) karena beliau punya penghasilan dari pembuatan kemah sehingga ketika ia pelayanan, ia hanya fokus memberi dan tidak menerima ! 

Kisah 18:3 
Karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. 

Bagaimana dengan kita yang terlibat di pelayanan rohani? 
Apakah kita menerima stipendium meski mempunyai penghasilan? 
Apakah kita menjadikan pelayanan adalah tempat kita bekerja mencari uang atau tempat kita meniti karier dibidang rohani? 

Kita hendaknya mencontoh rasul Paulus, tidak menjadikan pelayanan sebagai pekerjaan mencari uang tetapi semata-mata untuk membawa orang pada Yesus agar mereka beroleh keselamatan karena iman percaya kepada Yesus

Kisah 15:11 
Kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga. 

Yohanes 3:16 
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 

Tahukah anda, apa beda melayani Tuhan dan pelayanan rohani? 

Kita sudah membahas apa arti dan tujuan pelayanan rohani, selanjutnya kita bahas apa maksudnya melayani Tuhan. 

Apakah Tuhan memerlukan kita untuk melayaniNya? 

Mari kita simak Firman Tuhan berikut ini: 
Lukas 10:1,3 
Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahuluiNya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungiNya. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. 

Berarti Tuhan menghendaki kita umat kristiani untuk terlibat di dalam pelayanan untuk membawa banyak orang kepada Tuhan Yesus supaya mereka mengalami kasih Tuhan dan diselamatkan Tuhan. 

Melayani Tuhan artinya menyerahkan seluruh diri kita kepada Tuhan dan siap melaksanakan apa saja yang Tuhan kehendaki atau Tuhan perintahkan kita untuk pergi melakukan pelayanan. 

Tujuan melayani Tuhan adalah membalas kebaikan Tuhan (meski tidak akan bisa balas semua kebaikan Tuhan) karena Tuhan telah menolong hidup kita dan telah mengasihi kita; terlebih telah menyelamatkan kita dan Anugerah hidup kekal yang kita terima dariNya. 

Melayani Tuhan lebih mendalam dari pada pelayanan rohani sebab bukan hanya kegiatan/aktifitas pelayanan saja tetapi penyerahan diri sepenuhnya pada Tuhan. 

Pelayanan rohani itu bisa dikatakan seperti yang dilakukan Marta sedangkan melayani Tuhan, seperti dilakukan Maria. 

Orang yang telah menyerahkan diri secara total kepada Tuhan, tidak lagi memikirkan hal-hal dunia karena ia mengutamakan Tuhan di segenap hidupnya karena ia adalah laskar Kristus 

2 Timotius 2:4 
Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. 

Orang yang melakukan pelayanan rohani masih belum sepenuhnya serahkan diri kepada Tuhan karena masih melakukan aktifitas lainnya selain pelayanan rohani. 

Yang sering terjadi adalah melakukan pelayanan rohani berdasarkan agenda tahunan yang kita rencanakan dan bukan atas dasar hikmat Tuhan yang menyuruh kita melakukan pelayanan yang sesuai kehendak Tuhan. 

Perencanaan pelayanan memang penting tetapi mendengarkan perintah Tuhan untuk melakukan pelayanan adalah yang lebih utama dan lebih penting. 

Jujur saja, fenomena yang terjadi adalah mengatas-namakan pelayanan untuk kepentingan pribadi/kelompok, kemudian meminta Tuhan mendukung/memberkati kegiatan pelayanan yang kita tentukan. 

Lihat saja hasil dari pelayanan yang berasal dari rencana manusia dengan pelayanan yang diberikan Tuhan untuk kita laksanakan. 

Semoga kita terlibat dalam pelayanan rohani semakin hari dimurnikan motivasi dan tujuan pelayanan kita agar menjadi hamba Tuhan sesungguhnya yang hanya melayani Tuhan tanpa embel-embel yang mengharapkan menerima sesuatu dari Tuhan sebagai upah telah melayaniNya. 

Simak dan renungkan Firman Tuhan berikut supaya kita makin sungguh2 mau melayani Tuhan (Lukas 17:7-10). 

Lukas 17:10 
Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. 


Salam Kasih, 
Surya Darma 


Jumat, 20 September 2019

SIKAP PERTOBATAN


Kamis, 19 September 2019

1 TIMOTIUS 4:12-16
MAZMUR 111:7-10 
LUKAS 7:36-50 

Lukas 7:37-38 
Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakiNya, lalu membasahi kakiNya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakiNya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. 

Orang yang menyesali dosa-dosanya menangis tersedu-sedu dan biasanya ia bertobat sungguh-sungguh dan tidak mau mengulangi lagi dosanya. 

Hal itu terjadi pada seorang perempuan berdosa yang menangis di kaki Yesus seraya meminyaki kaki Yesus. 

Bagaimana dengan kita? 
Apa yang kita lakukan setelah berbuat dosa? Apakah kita bertobat karena takut akan akibat dosa ataukah kita bertobat karena menyesal telah melukai Hati Kudus Yesus yang mengasihi kita? 

Jika kita bersikap seperti perempuan berdosa itu maka kita bertobat karena kita menyesal telah melukai Hati Kudus Yesus sehingga kita akan bersimpuh di kaki Yesus, artinya kita perbaiki relasi dengan Yesus agar semakin intim dan tidak mau mengulangi dosa lagi. 

Kita sadar akan kelemahan diri kita yang mudah sekali jatuh ke dalam dosa. 
Maka dari itu kita mesti sungguh-sungguh mengendalikan hawa nafsu kedagingan dan senantiasa intropeksi diri agar makin hari makin semakin dekat dengan Tuhan agar jalan hidup kita dituntun olehNya. 

Galatia 5:24 
Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. 

Setiap orang tidak sama kelemahannya dan sebaiknya kita mesti tahu di bagian mana diri kita yang lemah dan berpotensi berdosa. Selain itu kita telusuri hal-hal apa saja yang membuat kita berdosa. 

Secara umum, keinginan hawa nafsu kedagingan menjadi penyebab utama orang berbuat dosa. 

Oleh sebab itu fokuskanlah diri kita akan hal-hal rohani dan kendalikan hal duniawi agar tidak menguasai diri kita. 

Kolose 3:2,5-6 
Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah 

Tidak mudah sebab terbiasa menuruti keinginan daging sehingga perlu tekad yang kuat untuk melangkah menjauhi keterikatan keinginan daging yang selalu saja terus menerus maunya dituruti. 

Isilah pikiran kita sebanyak-banyaknya pengetahuan Firman Tuhan untuk atasi pikiran-pikiran dunia yang cenderung mau menguasai pikiran kita. 

Sebab di pikiran kita ini adalah tempat peperangan antara hal-hal rohani dan hal-hal duniawi. 

Baik pikiran rohani dan pikiran duniawi maka akan menguasai seluruh pikiran kita dan sangat besar mempengaruhi sikap dan perbuatan kita. 

Dosa itu bukan dari perbuatan saja tetapi mulai dari pikiran, dosa telah terjadi. 

Dengan membangun relasi intim dengan Tuhan maka pikiran, perasaan, keinginan kita serahkan kepada Tuhan supaya jalan kita sesuai berada di JalanNya Tuhan. 

Inilah sikap pertobatan yang seharusnya kita lakukan sebab kita sadari bahwa dosa selalu menngintai di bagian lemah diri kita maka hendaknya kita mendekat terus kepada Tuhan untuk melawan dosa 


Salam Kasih, 
Surya Darma