Selasa, 27 Februari 2018

HAL MENGHAKIMI







Senin, 26 FEBRUARI 2018 

DANIEL 9:4b-10  
MAZMUR 79:8-9,11,13 
LUKAS 6:36-38 

Lukas 6:37 
Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. 

Menilai orang lain lebih mudah daripada menilai diri sendiri sebab pada dasarnya kita cenderung merasa :  
* diri kita lebih benar dari orang lain 
* diri kita lebih baik dari orang lain 

Bahkan kita bisa menghakimi orang lain menurut ukuran, pendapat/pandangan kita padahal belum tentu benar. 

Terlebih kepada orang yang tidak disukai maka langsung menghakimi orang itu dengan tajam dan memojokkannya. 

Firman Tuhan hari ini mengingatkan agar kita tidak menghakimi orang sebab kita juga akan dihakimi menurut ukuran kita ketika menghakimi. 

Lukas 6:38b 
Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 

Hanya Tuhan yang menghakimi dengan adil, bijaksana, dan tegas sebab Tuhan adalah Hakim Maha Agung yang sejati

Di dunia ini banyak menduduki jabatan hakim agung tetapi perilakunya tidak agung, malah pengecut dan koruptor yang mengadili berdasarkan keuntungan yang diperolehnya; bahkan keadilan begitu murahan bisa diperjual-belikan. 

Tetapi penghakiman Tuhan itu maha adil sebab Tuhan memiliki segala-galanya sehingga tidak bisa disogok, tidak bisa dijilat dengan pujian dan kata-kata manis yang penuh kemunafikan. 

Daniel mengakui Tuhan Allah bertindak adil dan benar saat menghakimi bangsa Israel yang bebal dan murtad. 

Daniel 9:7 
Ya Tuhan, Engkaulah yang benar, tetapi patutlah kami malu seperti pada hari ini, kami orang-orang Yehuda, penduduk kota Yerusalem dan segenap orang Israel, mereka yang dekat dan mereka yang jauh, di segala negeri kemana Engkau telah membuang mereka oleh karena mereka berlaku murtad terhadap Engkau

Pertanyaannya : 

Mengapa kita masih saja menghakimi orang lain karena kita memvonis orang lain itu bersalah, bahkan dengan yakin kita mengatakan orang lain itu berdosa sehingga patut dihakimi oleh kita? 

Entahlah, mungkin sudah menjadi bagian sifat kita manusia mudah menyalahkan dan menghakimi orang lain dan memuji diri sendiri benar dan orang lain salah. 

Hawa menyalahkan ular yang membujuk makan buah terlarang sedangkan Adam tidak menerima dirinya disalahkan Tuhan; malah menyalahkan Tuhan yang berikan Hawa sebagai pendampingnya. 

Kejadian 3:11-12 
FirmanNya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." 

Istri Ayub menyalahkan Tuhan menjadi penyebab kemalangan Ayub, suaminya. 

Ayub 2:9-10 
Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. 

Kedua contoh ini terkait menyalahkan orang lain dan menyalahkan Tuhan. 

Orang Farisi dan ahli Taurat lebih heboh sebab tidak hanya menyalahkan orang lain tetapi juga menghakimi orang lain termasuk menghakimi Yesus. 

Selanjutnya, 
Apa beda mengkritik dan menghakimi? 

Mengkritik adalah menyatakan sesuatu itu keliru atau salah dengan tujuan supaya kekeliruan atau kesalahan itu diperbaiki. 

Tujuan kita mengkritik agar orang yang keliru/salah itu tidak mengulangi lagi dan bermaksud membangun semangat orang tersebut lebih giat dan lebih baik lagi. 

Mengkritik yang membangun biasanya memberikan solusi atau jalan keluar dari kesalahan/kekeliruan yang telah terjadi. 

Mengkritik tetapi tidak ada solusi maka dapat dikategorikan menghakimi sebab tujuannya menyatakan kesalahan untuk menjatuhkan orang tersebut. 

Menghakimi mirip dengan mengkritik dalam hal menyatakan sesuatu itu salah tetapi dengan maksud dan tujuan untuk menjatuhkan orang tersebut. 

Menghakimi seringkali dengan sengaja dibesarkan (di-blowup) kekeliruan atau kesalahan sebenarnya terjadi supaya orang yang keliru/salah itu terpojokkan agar mudah dihukum dengan seberat-beratnya melebihi hukuman yang berlaku setimpal kekeliruan/kesalahannya. 

Semoga kita semakin dewasa rohani di dalam sikap dan perbuatan kita sehingga tidak mudah menghakimi orang lain tetapi bijaksana menyikapi kesalahan orang lain berdasarkan ukuran Firman Tuhan yaitu berdasarkan kasih kepada sesama. 

Baca : Matius 18:15, Yehezkiel 3:18-21 
namun hendaknya tidak menghakimi. 


Salam Kasih, 
Surya Darma 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan ketik komentar Anda atau mungkin membutuhkan doa dan konseling, ke alamat email saya : surya.pdkk@gmail.com