Minggu, 31 Maret 2019

DOA ORANG FARISI

Sabtu, 30 Maret 2019

HOSEA 6:1-6 
MAZMUR 51:3-4,18-21 
LUKAS 18:9-14  

Bacaan Injil Lukas hari ini, Yesus memberikan perumpamaan doa orang farisi dan doa pemungut cukai, untuk menjelaskan tentang orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah orang lain. 

Lukas 18:9-10
kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 

kita bisa baca, bagaimana cara berdoa orang farisi : 

Lukas 18:11
orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini. 

Memang, kecenderungan menganggap diri sendiri adalah benar dan orang lain adalah tidak benar, merupakan kebiasaan yang harus dihilangkan, sebab jika tidak, akan menjadi sombong rohani. 

Kebiasaan orang Farisi mengungguli diri sendiri karena mereka tidak rendah hati. 
biasanya mereka bersikap begitu, karena memiliki kelebihan dan kehebatan prestasi diri sehingga merasa sudah hebat dan menganggap orang lain masih dibawah level dirinya. 

Di jaman sekarang ini, masih terlihat seperti sikap orang Farisi biasanya mereka tidak mau bergaul dengan orang lain yang dianggapnya masih dibawah level dia dan tidak menguntungkan dirinya sehingga mereka enggan bergaul dan berelasi. 

Memilih-milih teman adalah cikal bakal menjadi orang Farisi sebab biasanya mereka ada motivasi untuk kepentingan sendiri dan jika teman tersebut tidak menguntungkan dirinya maka ia enggan melanjutkan relasi pertemanan. 

sebetulnya, 
apa sih yang perlu di sombongkan ?
apakah hanya mau berteman bila ada urusan duit, urusan bisnis? dan biasanya akan mempengaruhi cara berdoa, cara membangun relasi dengan Tuhan. 

Tuhan dijadikan objek kepentingan diri sendiri, hanya berdoa jika membutuhkan pertolongan Tuhan, sama seperti cara ia begaul, ia hanya mau berteman bila ada manfaat kepentingannya. 

Selama ia belum memerlukan orang lain, belum butuh Tuhan maka ia tidak akan mau ber-relasi dan terhadap Tuhan juga ia enggan berdoa, ia tidak akan tertarik mengenal Tuhan, demikian juga ia tidak tertarik mengenal diri seseorang sepanjang tidak berguna bagi kepentingan dirinya. segala-galanya hanya karena uang, bisnis, dan kekayaan materi. 

Andaikata berdoa juga, cara berdoanya juga cenderung seperti doa orang Farisi. 

sesungguhnya, Yesus memberi contoh dari perumpamaan ini supaya kita meniru dan mencontoh sikap doa pemungut cukai. 

Lukas 18:13
tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 
Sadarilah bahwa diri kita ini rentan dengan dosa karena kecendrungan egoisme diri kita sangat tinggi sehingga seringkali kita tidaklk dapat mengendalikan dan akibatnya kita berbuat dosa melanggar kehendak Allah. 

Setiap hari kita kudu harus meminta ampun kepada Allah atas perbuatan, perkataan, pikiran yang kita lakukan ....Jika kita menilik lebih detail firman Allah, hampir dapat dipastikan perbuatan bertentangan dengan kebenaran Allah seringkali kita lakukan. 

Mungkin ada orang yang complain merasa dirinya bersih dari dosa namun hati-hati, jangan sampai merasa diri benar (seperti orang farisi) eh ternyata di mata Tuhan, kita berdosa. 

Matius 7:21
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 
JADI, 
Lebih baik kita bersikap rendah hati dan mawas diri serta menyadari bahwa diri kita ini masih banyak kekurangan dan kelemahan sehingga kita terus-menerus merasa perlu mendekatkan diri kepada Tuhan dan akan memohon ampun setiap hari supaya jalan hidup kita semakin disempurnakan Allah. 

Lukas 18:14
Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak.sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. 



Salam Kasih, 
Surya Darma 

Sabtu, 30 Maret 2019

KASIHILAH TUHAN DAN SESAMA

Jumat, 29 Maret 2019

HOSEA 14:2-10 
MAZMUR 81:6-11,14,17 
MARKUS 12:28-34

Bacaan Injil Markus hari ini mengenai hukum kasih kepada Allah dan kepada sesama. 

Markus 12:30-31
Kasihilah Tuhan Allahmu dengan :
segenap hatimu
segenap jiwamu
segenap akal budimu
segenap kekuatanmu
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri
tidak ada hukum lain yang lebih utama
daripada kedua hukum ini. 

Setiap umat Kristen dan Katolik pasti familiar dan pernah mendengar bahkan sudah mengerti kedua hukum kasih ini. 

Pertanyaannya adalah :
sudahkah melakukan dan mentaati hukum kasih ini di kehidupan sehari-hari? 
Mari kita intropeksi diri kita sendiri....

A. Kasihilah Tuhan Allahmu 

Yohanes 15:21
Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya dialah yang mengasihi Aku. Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya. 

gampang toch untuk melihat diri kita sendiri : apakah aku mengasihi Tuhan Yesus? dengan bertanya pada diri sendiri, 

sudahkah :
aku mengetahui perintah Tuhan Yesus.
aku mengetahui sifat dan sikap Yesus saat Ia hidup di dunia.
aku melakukan pekerjaan yang telah Yesus lakukan. 

Yohanes 14:12
Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan yang Aku lakukan bahkan pekerjaan yang lebih besar daripada itu. 

wow, kita bisa melakukan pekerjaan yang lebih besar dari pekerjaan yang Yesus lakukan, ini kata Yesus lho.... Salah satu cara untuk mengetahui apa yang telah dilakukan Yesus adalah membaca Injil dan melakukan pekerjaan sesuai yang kita baca di Injil. 

Sudah belum baca Injil? dan ayat-ayat firman Tuhan lainnya? sudah belum melakukan pekerjaan seperti Yesus? 

1 Yohanes 2:3-6
inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah yaitu jikalau kita menuruti perintah-Nya. Barangsiapa berkata : Aku mengenal Dia tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, maka ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. tetapi barangsiapa menuruti firman-nya maka
di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah ; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia. barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia maka ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Jelas sekali,
dikatakan w a j i b  hidup sama seperti Kristus telah hidup!
dengan demikian kita tidak berdusta melainkan kita sungguh mengasihi Allah. 

B. Mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri 

Apakah kita mau mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri. 
contoh kecil saja, Kita sayang diri kita, sayang sama perut kita, pengen makan enak, apakah kita ajak orang lain makan bersama kita? 

Sepertinya idealis ya tetapi jika kita mau mentraktir orang lain, apalagi orang itu sedang lapar atau kekurangan uang maka ajakan kita itu sangat menyentuh hatinya. 
Kita sebetulnya tahu koq seberapa murah hatinya diri kita ini, apalagi Tuhan, pasti lebih tahu daripada kita... 

Tuhan tahu, mana pemberian kita yang tulus hati atau pemberian kita yang pengen dipuji orang lain atau pemberian bertujuan untuk kepentingan bisnis..... 
Sejujurnya harus kita akui di hadapan Tuhan bahwa kasih kita kepada orang lain, kepada sesama kita masih sangat kecil dan sedikit sekali dibandingkan dengan berkat kasih Allah yang diberikan kepada kita. 

Kasih kita kepada sesama, masih memandang rupa, memandang jabatan. kedudukan, memandang status sosial dan kekayaan. Kita ajak sesama kita makan bersama kita jika sesama kita ini adalah sahabat kita, orang yang baik kepada kita,  atau orang yang cocok dan se-ide sepaham dengan kita, teman se-komunitas kita, teman lingkungan, temen komsel, pokok e sesuai dengan kepentingan pribadi kita. 

Paling sekali-kali kita mengasihi sesama, supaya ada keseimbangan hidup, supaya tidak dibilang orang lain bahwa diri kita sombong, dan sebagainya. tidak banyak, yang berhasil mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri... orang seperti ini termasuk langka di kota besar seperti Jakarta ini. 

Kesimpulan
Butuh kesadaran diri untuk ungkapkan syukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan yang telah kita rasakan dan kita peroleh. 

Berulangkali kita di-ingatkan agar mencontoh teladan Yesus yakni hatiNya begitu penuh belas kasihan melihat penderitaan orang sehingga Yesus senantiasa mengulurkan tangan menolong orang tanpa menimbang keuntungan apa yang diperoleh dari berbuat baik menolong orang. 

2 Korintus 8:9
karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan Yesus Kristus bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya, oleh karena kemiskinan-Nya. 

Bahkan Yesus memberikan segalanya termasuk nyawa demi menolong kita manusia. 
Yohanes 15:13
tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Semoga kasih, tidak hanya dibicarakan tetapi dilakukan setulus hati dan silahkan baca 1 Korintus 13 tentang Kasih. 


Salam Kasih, 
Surya Darma 

Jumat, 29 Maret 2019

SEMBAHLAH DAN ANDALKAN TUHAN

Kamis, 28 Maret 2019

YEREMIA 7:23-28  
MAZMUR 95:1-2,6-9 
LUKAS 11:14-23 

Bacaan Injil Lukas hari ini mengenai Yesus dan beelzebul. Yesus dikatakan mengusir setan dengan kuasa beelzebul. 

Lukas 11:15
tetapi ada di antara mereka yang berkata : Ia mengusir setan dengan kuasa beelzebul, penghulu setan. 


Saya teringat dengan teman semasa SMA, orangtuanya memakai jimat supaya toko sepatu mereka laris manis, banyak yang membeli.Namun teman saya bilang ia rada takut melihat kelakuan orangtuanya sebab setiap malam jumat, mengurung diri di kamar dan tidak seorangpun termasuk anak-anaknya boleh masuk ke kamar mereka. 

kasihan sekali,
mengandalkan kuasa setan untuk meraih kesuksesan adalah perbuatan sia-sia yang menjerumuskan orang ke jurang kesesatan menuju ke alam maut. 


Cara kerja setan selalu meminta balas jasa dari orang yang memujanya dan biasanya akan menghancurkan dirinya dan keluarganya. 

Seperti kita ketahui setan selalu memberikan hal -hal duniawi, terlebih harta dunia.... 
Lukas 4:6-7
kata iblis kepadaNya : segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan
kepadamu sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jika engkau menyembah aku, maka seluruhnya itu akan menjadi milikmu.... sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku... 


artinya :
setan/iblis akan memberikan apa yang seseorang mau asalkan orang tersebut bersedia menyembah setan/iblis. 
sedangkan,Yesus memiliki kuasa di bumi dan di sorga melebihi kuasa setan/iblis hanya miliki kuasa di bumi. 

Matius 28:18
Yesus berkata: kepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 


coba, ngapain mengandalkan setan/iblis
padahal Yesus lebih berkuasa daripada setan/iblis padah bukan hanya kuasa saja tetapi semua yang ada di jagat raya miliknya Allah. 


Yesaya 45:3
Aku akan memberikan kepadamu harta benda yang terpendam dsn harta kekayaan yang tersembunyi supaya engkau tahu bahwa Akulah Tuhan Allah. 


Jadi, adalah salah besar jika masih mengandalkan setan/iblis untuk mendapatkan kuasa dan harta kekayaan dunia atau bertanya masa depan kepada peramal yang tentu menggunakan kuasa setan/iblis. 

Adalah kemurtadan menyembah setan/iblis yang takkan terampuni jika tidak segera bertobat dan kembali kepangkuan Allah.... kita hanya menyembah Allah saja niscaya kita akan bersatu denganNya di tempat abadi kekal selamanya. 

Mazmur 95:6
Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita. 


Salam Kasih, 
Surya Darma 

Rabu, 27 Maret 2019

PENGGENAPAN HUKUM TAURAT


Rabu, 27 Maret 2019

ULANGAN 4:1,5-9  
MAZMUR 147:12-13,15-16,19-20 
MATIUS 5:17-19 
Matius 5:17 
Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya. 


Kita bisa membaca dan mempelajari hukum Taurat dan kitab para nabi di Alkitab Perjanjian lama (PL). 

Ada yang mengatakan bahwa kitab PL sulit dimengerti dan Allah terlihat sangat keras, sering banget marah, menghukum, bahkan memerintahkan untuk menjarah, membunuh musuh bangsa Israel dan kelihatan pilih kasih kepada bangsa Israel, yang sering diampuni dan diberkati (baca kitab raja-raja, tawarikh, yosua, hakim-hakim). 

Peraturan dan ketetapan Allah begitu detail dan sepertinya berat dan sulit dapat menuruti hukum Taurat itu. 

Hukum Taurat ini disampaikan Musa sehingga dikenal sebagai Hukum Taurat Musa (baca kitab Imamat) sedangkan Alkitab Perjanjian Baru (PB) merupakan gambaran Kasih Allah sangat menonjol dan sepertinya kita ini manusia selalu diampuni dan diberkati Allah sebab jarang sekali Allah marah atau memerintahkan membunuh, malah kita diminta untuk mengasihi musuh-musuh kita. 

Benarkah demikian pendapat orang tersebut diatas? dan benarkah gambaran Allah PL dan Allah PB berbeda banget? 

Sepertinya di PL Allah bertindak sebagai hakim tegas tanpa kompromi sedangkan di PB Allah bertindak penuh kasih dan pengampun. 

Sekilas sepertinya benar pendapat demikian, namun jika kita mendalami membaca dan merenungkan Alkitab PL dan PB termasuk Deuterokanonika, tidak seperti pendapat orang diatas. 

Hukum Taurat memaksa orang harus melakukannya (baca Ulangan 28:1-45). 
ayat 2
segala berkat akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu jika engkau mendengarkan suara Tuhan Allahmu.

ayat 15
tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara Tuhan Allahmu dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapanNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini maka segala kutuk ini akan datang kepadamu. 

Tetapi Allah tidak bertindak hanya menghakimi dan menghukum melainkan Allah juga bertindak mengasihi manusia. 

Bisa kita baca kitab Mazmur terlebih pasal 23 dan kitab Hosea sangat jelas menggambarkan bagaimana Allah mengasihi bangsa Israel yang murtad tidak setia. 

Bangsa Israel itu dipilih dan dikasihi Allah, sama halnya kita dipilih dan dikasihi Allah (Yohanes 15:16). Perilaku bangsa Israel mencerminkan tingkah laku kita yang telah diampuni, dijadikan anak-anak Allah namun masih juga kita tidak mentaati Allah. 

Dalam PB, Yesus mengajarkan untuk berbuat kasih kepada sesama dan telah memberi contoh teladan kasih bahkan mengorbankan diri demi menebus dosa kekal manusia. 

Tetapi juga bertindak tegas kepada orang Farisi dan ahli Taurat dan mengajarkan bahwa manusia akan diadili dan dihukum (perumpamaan Ilalang dan gandum - Matius 13:24-30) dan perikop Yesus membawa pemisahan (Lukas 12:49-53). 

Hukum kasih memberikan kebebasan memilih dengan kesadaran diri sendiri mau berbuat kasih kepada sesama sebagai wujud kasih kita kepada Allah yang telah mengampuni, memberkati hidup kita dan mengasihi kita (baca Yohanes 14:15, Yohanes 13:34). 

Kasih Allah telah menyelamatkan kita dari kematian kekal dengan menyediakan rumah abadi (Yohanes 14:2) dan kita manusia yang percaya kepada Yesus di Anugerahi menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). 

Contoh : memberi dengan ikhlas lebih baik daripada memberi karena takut akan hukuman Allah. Nampak jelas perbedaannya seseorang yang memberi karena hatinya ikhlas terdorong oleh ungkapan syukur kepada Allah yang telah memberkati hidup kita. 

Jika memberi dengan terpaksa karena hukum Taurat atau ga enak dilihat orang kalau tidak memberi kolekte, atau jangan sampai memberi dengan tujuan untuk mengharapkan pujian atau tujuan bisnis agar lancar karena sudah memberi. 

Berbuatlah sesuatu kebaikan bagi orang lain, didorong oleh perasaan bekas kasihan kepada orang lain dan didorong oleh ungkapan syukur atas pemeliharaan Tuhan dan tidak perlu diumumkan agar orang lain kagum dan memuji perbuatan baik kita. 

JADI 

Hukum kasih yang diajarkan Yesus merupakan penggenapan dari hukum Taurat sehingga kita tidak boleh meremehkan apalagi meniadakan hukum Taurat.

Matius 5:19
siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya demikian kepada orang lain maka ia menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah hukum Taurat, maka ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. 

Memang kitab Galatia 3:15-29 ditulis oleh Rasul Paulus; jika kita membacanya tidak secara mendalam maka sepertinya kita tidak perlu lagi hukum Taurat tetapi sesungguhnya tidaklah demikian maksudnya. 

Yang penting adalah kita melakukan kebenaran Allah secara utuh dan tidak pilih-pilih sesuai yang kita mau apakah itu bagian dari hukum Taurat ataukah dari ajaran kasih yang Yesus sampaikan dengan segenap hati karena kita melakukannya untuk menyenangkan hati Allah sebagai wujud kasih kita pada Allah. 


Salam Kasih, 
Surya Darma 

MAUKAH KITA MENGAMPUNI?

Selasa, 26 Maret 2019

DANIEL 3:25,34-43  
MAZMUR 25:4-9 
MATIUS 18:21-35 

Matius 18:22 
Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. 

wow... mengampuni itu lebih dalam maknanya daripada memaafkan apalagi sampai demikian banyak kali harus mengampuni ; 3x saja rasanya termasuk orang baik hati.... 
Menurut anda, bisa ga sih kita senantiasa mengampuni seseorang yang terus-menerus merugikan bahkan menyakiti kita? 

Mengampuni itu artinya kita memaafkan orang itu sampai hati kita tidak kecewa, tidak kesal, tidak sakit hati, bahkan hati kita dengan tulus mau memaafkan serta berusaha membuat orang tersebut untuk bertobat dari perbuatannya yang telah merugikan kita dan orang lain. 

Definisi mengampuni ini seperti yang Yesus lakukan yakni mengampuni kita manusia. 
Demikian juga di Perjanjian Lama dimana Allah terus-menerus mengampuni bangsa Israel dari murtad bahkan menyakiti hati Allah. 

Mengampuni seperti yang dicontohkan Yesus dapat dikatakan sulit terwujud jika mengandalkan kekuatan diri kita sendiri. 

Pada awalnya kita belajar mengampuni orang lain demi Yesus, artinya kita mau menuruti kehendak Yesus agar kita mau ampuni orang tersebut dengan belajar menyangkal harga diri kita. 

Sakit sih namun jika kita terus memohon kekuatan melalui Roh Kudus disertai upaya membenahi hati kita agar semakin murah hati dan semakin dipenuhi belas kasihan kepada orang lain maka kita akan bisa mengampuni orang lain meskipun butuh kemauan keras berbuat demikian karena kita mau menyenangkan hati Tuhan. 

Yang terasa sulit mengampuni bila orang tersebut masih saja melecehkan kita meskipun sudah kita katakan bahwa perbuatannya merugikan kita dan dapat merugikan orang lain juga. 

Sikap orang tersebut dimata kita sangat sombong, arogan, dan tidak sedikitpun merasa bersalah telah berbuat demikian. 

Jujur saja menghadapi type orang seperti begini, menyulutkan api kemarahan di hati kita atau sebaliknya membuat kita tawar hati kepadanya dan memilih lebih baik tidak lagi berhubungan dengan orang ini, segan berteman dengan model begini. 

Dengan jauh dari orang ini, kekesalan hati akan luntur bahkan dengan berjalannya waktu, bisa memaafkan orang ini. 

Jika masih bertemu dan berhubungan dengannya, waduh sulit sekali menerima perlakuannya, apalagi mengampuninya; tidak membalas saja sudah bagus, emosi dan marah kudu mesti dikontrol, jika tidak bisa ramai. 

Pengosongan diri seperti Yesus adalah jawabannya dan menjadi tujuan bagi kita agar bisa sampai ke arah itu; butuh waktu dan kemauan serta kebulatan tekad hingga sampai pada pengosongan diri dari hal2 keduniawian dan memiliki sifat dan sikap seperti Yesus. 

Pertanyaannya mungkinkah bisa kita lakukan dan wujudkan? 
jawabannya : bisa!  sebab sudah banyak orang beriman, terutama para santa dan santo, dan para pastor, juga orang awam yang sampai akhir hayatnya tetap setia melakukan kehendak Tuhan, termasuk mengampuni. 

Bagi yang belum bisa mengampuni adalah : suatu tantangan agar bisa mengampuni orang lain yang telah berbuat salah dan merugikan dirinya bahkan sampai menyakitinya. 
Semoga kita bisa mengampuni orang lain sebelum akhir hayat kita. 


Salam Kasih, 
Surya Darma 

Senin, 25 Maret 2019

KABAR SUKACITA MARIA

Senin, 25 Maret 2019

YESAYA 7:10-14;8:10  
MAZMUR 40:7-11 
LUKAS 1:26-38 

Gereja Katolik menetapkan sebagai Hari Raya Kabar Sukacita tentang malaikat Gabriel memberi kabar kepada Maria akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki padahal ia belum menikah dengan Yusuf , tunangannya. 

Lukas 1:28, 31
Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." 
sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 

Mengapa disebut kabar sukacita padahal berita tersebut sangat mengejutkan dan dampaknya akan terkena hukaman rajam karena punya anak sebelum menikah? 

Maria bersedia menerima kenyataan akan mengandung dan berkata: 
Lukas 1:38
Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." 

Apa yang membuat Maria memiliki iman yang besar karena bersedia menerima keadaan dirinya akan mengandung dan akan melahirkan ?  

Pertanyaan lainnya adalah :
Seberapa dalam kita memaknai apa yang Maria katakan apa yang membuat Maria memiliki iman yang besar? 

Kita tidak banyak dapat menggali kisah Maria di dalam Alkitab tetapi paling tidak dari pengalaman iman Maria, dapat kita ketahui bahwa : 

Hal Pertama 
Maria adalah orang yang terbuka hatinya 
menerima sesuatu hal yang baru dalam hidupnya. 

Maria mempercayai Malaikat Gabriel 
padahal Maria belum mengenal siapa itu Malaikat Gabriel ? 

Bayangkan, jika hal itu terjadi pada diri kita, semudah itukah kita mempercayai berita tentang Allah yang dibawakan oleh seseorang; apakah beritanya dari seorang Pastor atau dari Pewarta/Penginjil, atau dari Katekis/Pengajar rohani? 

Apalagi berita tersebut jika kita terima akan menimbulkan masalah pada diri kita, atau minimal akan merepotkan diri kita..biasanya tidak mudah menerima tetapi berbeda dengan Maria, bersedia menanggung akibat karenamengandung sebelum nikah? wow, bayangkan betapa menakutkan akibatnya . . . 

Hal Kedua 
Maria mau mempercayai hidupnya di tangan Allah. 

Betapa mengagumkan iman Maria pada Allah dan tidak saja Maria memiliki iman percaya kepada Allah tetapi juga Maria memiliki iman berserah kepada Allah 
juga sekaligus memiliki iman penuh pengharapan kepada Allah 
Keyakinan Maria pada Allah begitu besar dan nampak dari perkataannya bahwa :  "aku ini hamba Tuhan, ..." 

Maria betul-betul berlaku sebagai seorang hamba Tuhan, yang menyerahkan hidup  kepada Tuhan. Seorang hamba yang melayani tuannya dengan segenap hati dan tuannya itu adalah Allah. 

Hal Ketiga 
Maria setia dan taat pada penggilannya sebgai hamba Tuhan. 

Terlihat dari sikap Maria menanggung derita, bukan hanya saat mengandung Yesus, tetapi hingga Yesus di Salib, dikuburkan, dan mengalami Kebangkitan. 

Kita ketahui di perikop berikutnya, beberapa kali Maria menyimpan segala sesuatu yang terjadi pada diri Yesus, di dalam hatinya, artinya ia tidak komplain 
dan bertanya : mengapa atau kenapa? 

Lukas 2:19 
Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. 

Lukas 2:51  
lalu Yesus pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan
semua perkara itu di dalam hatinya. 

Ketiga hal tersebut sangat menonjol dari sikap Maria patut kita contoh teladannya. dan semoga kita juga berbuat seperti Maria. 


Salam Kasih, 
Surya Darma