Senin, 30 September 2019

MENJADI YANG TERBESAR


Senin, 30 September 2019

ZAKARIA 8:1-8
MAZMUR 102:16-23
LUKAS 9:46-50

Lukas 9:48 
Yesus berkata kepada murid-muridNya: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam namaKu, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar". 

Yesus mengatakan bahwa yang terkecil diantara kamu, dialah terbesar ketika menanggapi pertengkaran murid-murid Yesus mengenai siapa yang terbesar diantara mereka? 

Lukas 9:46 
Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. 

Pertengkaran mengenai siapa terbesar, bukan hanya kali ini saja terjadi tetapi diulangi lagi di saat perjamuan terakhir dan hal ini dicatat di Lukas 26:24. 

Rupanya menjadi terbesar adalah keinginan bagi seseorang yang berambisi menonjolkan dirinya agar diakui banyak orang supaya menjadi orang penting dan untuk memperoleh sesuatu keuntungan yang direncanakan sebelumnya harus tercapai. 

Orang berambisi menjadi yang terbesar biasanya ia seorang yang menempatkan status dan harga diri merupakan hal yang sangat penting baginya. 

Ia beranggapan menjadi yang terbesar akan mengangkat harga dirinya menjadi yang terbaik dan dihargai banyak orang. 

Ia seorang yang terikat pada sesuatu sebagai andalan hidupnya dan tanpa ia sadari ia sudah memberhalakan sesuatu tersebut dan tidak heran bila suatu hari nanti ia akan mengabaikan Allah dengan berhalanya menjadi yang terutama dalam hidupnya. 

Jadi berhala di jaman sekarang sudah berubah bentuk sebab yang disembah bukan lagi patung tetapi sesuatu yang mengikat dirinya dan menjadi andalan hidupnya. 

Maka dari itu, 
menjadi yang terbesar merupakan hal mutlak yang harus diraihnya supaya ia dapat membanggakan dirinya sebagai orang tersukses di dalam segala bidang kehidupan termasuk hal kerohanian. 

Realita dapat kita lihat, 
seseorang yang sukses di dunia sekuler biasanya ketika ia terjun ke pelayanan rohani maka biasanya ia berambisi untuk menjadi yang terbesar di bidang rohani. 

Ia terbiasa menjadi orang sukses di dunia sekuler maka ketika ia berada di bidang rohani, ia berusaha tidak menjadi yang kedua tetapi menjadi yang pertama atau yang terbaik dan yang terbesar. 

Orang yang berambisi menjadi terbesar biasanya kesulitan menjadi pelayan sebab terbiasa menjadi tuan yang selalu dilayani dan bukan melayani. 

Ketika berada di pelayanan rohani, tidak mudah melepaskan atributnya menjadi yang terbesar sehingga ia memerlukan waktu yang lebih panjang untuk menjadi pelayan yang melayani banyak orang. 

Ke-12 murid Yesus bertengkar karena berambisi menjadi yang terbesar dan kita tidak tahu secara jelas tujuan mereka mengejar menjadi yang terbesar diantara mereka. 

Namun setidaknya kita bisa menduga yang dikejar adalah kedudukan/jabatan yang akan mereka dapatkan bila suatu hari Yesus menjadi raja bangsa Israel. 

Markus 10:35,37 
Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepadaNya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!" Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaanMu kelak, yang seorang lagi di sebelah kananMu dan yang seorang di sebelah kiriMu." 

Ternyata bukan hanya ke-12 murid utama (=para rasul) tetapi murid-murid lainnya juga berpikiran bahwa Yesus menjadi raja di kemudian hari. 

Lukas 24:21a  
Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. 

Suatu peringatan bagi kita umat kristiani yang juga termasuk murid-murid Yesus agar memurnikan motivasi dan tujuan untuk kepentingan keuntungan pribadi seperti terjadi pada para rasul tersebut. 

Filipi 2:4 
Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 

Apakah salah bila kita mau menjadi yang terbesar dalam hal rohani? 

Penekanan menjadi yang terbesar dalam bidang rohani berbeda dengan menjadi terbesar di dunia sekuler/non rohani. 

Di dunia sekuler, menjadi yang terbesar biasanya berhubungan dengan jabatan, profesi, karier, bisnis, dan harta kekayaan 

Di bidang rohani, menjadi yang terbesar berhubungan dengan sikap hati, perilaku, dan perbuatan kasih. 

Semakin ingin menjadi terbesar di dunia biasanya semakin terperosok ke dalam kesombongan dan keangkuhan diri yang tidak berkenan bagi Tuhan Allah. 

Semoga kita umat kristiani tidak lagi berambisi menjadi yang terbesar menurut ukuran dunia melainkan menjadi yang terkecil bahkan kita mengosongkan diri kita, tidak memikirkan lagi keinginan menjadi terbesar di dunia ini.  


Salam Kasih, 
Surya Darma 


Sabtu, 28 September 2019

PERCAYALAH YESUS MENYERTAI KITA


Sabtu, 28 September 2019

ZAKARIA 2:1-5,10-11
YEREMIA 31:10-13
LUKAS 9:43-45

Lukas 9:44 
"Dengarlah dan camkanlah segala perkataanKu ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia." 

Yesus memberitahukan tentang diriNya akan mengalami penderitaan dan akan dibunuh namun akan bangkit kembali pada hari ketiga (Matius 17:22-23). 

Murid-murid tidak mengerti apa maksud perkataan Yesus ini dan mereka tidak berani bertanya kepada Yesus sebab sebelumnya Petrus pernah menegur Yesus agar tidak mengatakan tentang diriNya akan dibunuh tetapi Yesus malah menghardik Petrus: enyahlah iblis! (Matius 16:21-23). 

Petrus dan murid-murid lainnya saat itu tidak memahami rencana keselamatan Allah yang diemban Yesus dengan cara mengorbankan diriNya untuk menebus dosa-dosa manusia agar selamat dari alam maut dan mengAnugerahkan kita manusia, kehidupan kekal di Surga. 

Perkataan Yesus bahwa diriNya akan diserahkan ke dalam tangan manusia untuk mengingatkan kita juga yang hidup di jaman sekarang ini. 

Kita akan mengalami juga penderitaan seperti dialami Yesus bahkan kita juga akan dibunuh seperti Yesus namun kita hendaknya tidak gentar dan takut sebab kita akan dibangkitkan seperti Yesus. 

Arti kebangkitan bagi kita adalah suatu kemenangan melawan penderitaan yang diakibatkan oleh dosa. 

Penderitaan yang kita alami disebabkan: 
1) kesalahan dan dosa kita sendiri 
2) perbuatan orang lain 
3) pencobaan dari Iblis (Ayub 1:9-12) 
4) ujian dari Allah (Ibrani 12:1-13) 

Penderitaan disebabkan oleh perbuatan orang lain dialami Yesus dan hal ini IA katakan bahwa diriNya akan dibunuh. 

Jelaslah bahwa selama kita hidup akan ada penderitaan dan harus kita lawan dengan keyakinan iman yang teguh bahwa Yesus akan menyertai kita. 

Matius 28:20b 
Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman 

Keyakinan Yesus menyertai kita haruslah dipegang erat-erat dalam segala situasi dan keadaan hidup; sedang menderita maupun sedang tidak menderita. 

Seringkali dalam keadaan tidak menderita membuat kita lupakan Yesus dan saat menderita, kita ingat Yesus dan meminta pertolongan dariNya. 

Kebiasaan buruk ini jangan diteruskan melainkan kita tetap ingat kepada Yesus yang selalu menyertai kita. 

Cara paling efektif untuk mencegah kita melupakan Yesus adalah tanamkan di pikiran kita bahwa tujuan utama hidup di dunia ini adalah hidup kekal di Surga sehingga kita tidak terikat oleh hal-hal dunia yang memang sangat menggoda. 

Selain itu kita jaga hati kita tetap bersih dari kotoran dunia yang sarat dengan hawa nafsu sebab dari dalam hati kita memancar kehidupan (Amsal 4:23). 

Dengan demikian kita tidak akan lupakan Yesus atau dengan katalain kita hidup menurut jalan kebenaran yang ditunjukan Yesus kepada kita agar sampai kepada kehidupan kekal. 

Yohanes 14:6 
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 

Dosa mengakibatkan kita menderita dan dosa sangat menghambat perjalanan kita menuju kekekalan hidup, oleh sebab itu waspadalah terhadap dosa yang selalu mengintai disaat kita mengingini sesuatu 

Hendaklah kita tetap bersandar kepada Yesus Kristus agar kita mampu hadapi semua penderitaan hidup. 

Ketika aku berbeban berat 
Kudatang kepada Yesus 
Dia berikan damai dan sukacita 
Sejahtera dalam hatiku 

Ketika aku berputus asa 
Kudatang kepada Yesus 
Dia bebaskanku dan lepaskanku 
Kini aku jadi baru 

Yesus Yesus Tuhan Mulia namamu 
Kutinggikan kuangungkan namamu 
selama-lamanya 


Salam Kasih, 
Surya Darma 


Jumat, 27 September 2019

SIAPAKAH AKU INI?


Jumat, 27 September 2019

HAGAI 2:1-10
MAZMUR 43:1-4
LUKAS 9:19-22 

Lukas 9:20 
Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah." 

"Menurut kamu, siapakah Aku ini?" 

Jika pertanyaan Yesus kepada para murid ditanyakan kepada kita umat kristiani, apa jawaban kita. 

Benarkah kita umat kristiani pasti jawab Yesus adalah Mesias !!! 

Kenyataannya justru ada begitu banyak umat kristiani mulai meragukan apakah Yesus adalah Mesias. 

Mengapa demikian? 

Ketidak-percayaan sebagian orang yang beriman kepada Yesus disebabkan oleh sebagaian besar keadaan hidupnya yang mengalami  penderitaan tak kunjung berakhir dalam waktu yang lama. 

Malah ada yang mempertanyakan Yesus ada dimana di saat ia sedang menderita padahal ia sudah berteriak minta tolong tetapi ia merasa tidak ditolong Yesus dan akhirnya mencari alternatif lain diluar Yesus untuk menyelesaikan masalahnya 

Padahal Tuhan Allah adalah sumber dari segala sesuatu yang ada dibumi ini. 

Hagai 2:9 
KepunyaanKulah perak dan kepunyaanKulah emas, demikianlah firman Tuhan semesta alam. 

Mengapa berpaling dari Tuhan dan fokus perhatiannya dialihkan pada hal duniawi sedangkan segala yang ada di bumi ini berasal dari Tuhan sebab bumi dan isinya diciptakan oleh Tuhan Allah. 

Hiduplah di dalam Tuhan dan jangan hidup mengandalkan dunia. 

Banyak orang bekerja keras siang dan malam dengan mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. 

Orang yang mengandalkan Tuhan ketika ia bekerja akan memperoleh hasil lebih baik daripada hasil diperoleh dari memgandalkan kekuatan sendiri. 

Amsal 16:3 
Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu. 

Kita ingat ketika Petrus menuruti perintah Yesus ke tempat yang lebih dalam untuk menebarkab jala dan ternyata hasilnya luarbiasa banyak ikan diperolehnya padahal sebelumnya ia tidak mendapat ikan karena mengandalkan pengalaman dan kekuatan diri sendiri. 

Oleh sebab itu, 

Bangunlah pondasi iman yang kokoh dan bangunlah bait Allah di dalam diri kita maka niscaya Tuhan akan melimpahkan berkat-berkatNya melimpah kepada kita. 

Jangan sampai iman percaya kita kepada Yesus luntur sehingga tidak mengakuinya Yesus adalah Mesias Sang Juruselamat di dalam hidup kita. 

Teruslah bertekun mengenal siapa Yesus sesungguhnya supaya kita tidak goyah keyakinan kita kepada Yesus melalui doa, saat teduh bersamaNya dan renungkan SabdaNya tertulis di kitabsuci. 


Salam Kasih, 
Surya Darma 


Kamis, 26 September 2019

FOKUSLAH PADA HAL-HAL ROHANI


Kamis, 26 September 2019

HAGAI 1:1-8
MAZMUR 149:1-6,9 
LUKAS 9:7-9 

Lukas 9:9  
Herodes berkata: "Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?" Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. 

Raja Herodes cemas mendengar kabar tentang Yesus yang melakukan perbuatan dengan penuh kuasa menyembuhkan orang sakit, dan ajaranNya penuh kuasa sehingga Herodes berusaha bertemu dengan Yesus. 

Lukas 9:7a 
Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan iapun merasa cemas 

Tidak ditulis, kecemasan raja Herodes mengenai hal apa? 
Mungkin saja Herodes cemas mengenai hal suksesi dimana ada orang lain yang lebih hebat, lebih berkuasa dari dirinya atau ia cemas kehilangan pengaruh atau wibawa sebagai penguasa wilayah. 

Demkian juga kita, seringkali cemas oleh bebagai hal, terutama cemas akan hari esok, cemas masa depan, atau hari tua, pokok e cemas tentang hidupnya. 

Ada yang datang mencari Yesus tetapi ada juga mencari orang pinter yang bisa melihat masa depan dirinya. 

Yang mencari Yesus; ada yang fokusnya meminta berkat dari Yesus dan yang ini  paling banyak yang diminta. 

Tetapi seringkali banyak orang lupa, yang paling penting adalah relasi intim dengan Yesus daripada fokusnya hanya minta, minta, dan minta rejeki, dan berkatNya. 

Kebanyakan orang fokus pada kebutuhan tubuh dan jiwanya tetapi mengabaikan kebutuhan rohnya/rohaninya. 

Pemenuhan kebutuhan tubuh dan jiwa di dominasi oleh keinginan daging yang sarat dengan hawa nafsu hal-hal dunia. 

Padahal Yesus menasehati agar kita fokus pada hal-hal rohani yang membawa kita menuju kepada kekekalan sedangkan hal-hal dunia sifatnya sementara yang menjauhkan kita dari keselamatan kekal. 

Yohanes 6:27 
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meteraiNya. 

Relasi intim dengan Tuhan membawa roh kita masuk ke dalam HadiratNya yang kudus dimana kita bertemu/berjumpa dengan Tuhan Allah yang Maha Rahim. 

Hagai 1:8 
Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaanKu di situ, firman Tuhan. 

Bangun Rumah maksudnya bangunan Bait Allah di jaman nabi Hagai saat itu namun makna terdalamnya adalah bangun Bait Allah di dalam hati kita. 

1 Korintus 3:16 
Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? 

Orang yang tidak membangun bait Allah di dalam dirinya akan mengalami banyak permasalahan hidupnya yang tidak bisa ia atasi dan makin hari makin menumpuk masalah hidupnya belum terselesaikan dan Akibatnya sering cemas, khawatir, takut akan kehidupannya. 

Hagai 1:6 
Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! 

Oleh sebab itu fokuslah pada hal-hal rohani yang membawa kita ketenangan, damai sejahtera dan sukacita dari Tuhan sehingga kita tidak cemas,khawatir dan takut menjalani hidup ini. 

Yohanes 14:27 
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. 


Salam Kasih, 
Surya Darma 


Rabu, 25 September 2019

YESUS MENGUTUS MURID-MURIDNYA


Rabu, 25 September 2019

EZRA 9:5-9
TOBIT 13:2-5,8
LUKAS 9:1-6

Lukas 9:1,6 
Yesus memanggil kedua belas muridNya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. 

Setelah kita mendengar dan melakukan Firman Tuhan untuk pertumbuhan iman kita dan untuk kebaikan diri kita maka tiba saatnya kita menunaikan tugas perutusan memberitakan Injil dan tugas pelayanan. 

Ada yang bertanya: apakah orang yang baru bertobat atau mengalami jamahan kuasa Tuhan yang menyembuhkan sakit yang dideritanya; boleh terlibat dalam pelayanan rohani dan pemberitaan Injil? 

Boleh-boleh saja tetapi biasanya pondasi imannya belum stabil untuk menghadapi medan pelayanan dan tugas perutusan pemberitaan Injil. 

Sebab mereka yang baru bertobat masih memerlukan bimbingan untuk bertumbuh imannya artinya masih butuh dilayani. 

Bila baru bertobat dan langsung terlibat dalam pelayanan rohani maka biasanya tidak bertahan lama (=muntaber) kecuali dapat panggilan khusus dari Allah yang mengutusnya. 

Kita sudah membahas apa arti dan tujuan pelayanan rohani yaitu fokus utamanya adalah memberi dan bukan menerima atau melayani dan bukan dilayani. 

Pelayanan dari Allah yang memanggil dan mengutus kita, biasanya Allah memberi kuasa untuk menyembuhkan penyakit, mengusir setan/kuasa gelap, dan kuasa mengajar pemberitaan Injil. 

Mulai jaman Perjanjian Lama, Allah yang mengutus para nabi dan jaman Perjanjian Baru, Yesus mengutus ke-12 murid2Nya dan dilanjutkan oleh para Rasul yang mengutus murid-murid mereka. 

Tidak ada yang mengajukan diri untuk melakukan tugas perutusan tetapi anehnya di jaman sekarang, banyak orang yang mengajukan diri mau diutus untuk pemberitaan Injil. 

Entah apa faktor pendorongnya sehingga banyak yang tertarik tugas pemberitaan Injil; apakah faktor ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan yang menolong dirinya ataukah ada faktor penyebab lainnya. 

Seperti yang sudah dijelaskan dalam renungan sebelumnya bahwa pelayanan dan perutusan yang kita lakukan karena disuruh Tuhan atau setidaknya kita tanya Tuhan terlebih dahulu, apakah rencana kita mau pelayanan disetujui oleh Tuhan. 

Jangan sampai kita menentukan sendiri mau pelayanan begini dan begitu, lalu minta Tuhan memberkati pelayanan kita. 

Coba kita perhatikan, Yesus menyuruh ke-12 murid untuk persiapan pelayanan dan perutusan, yaitu: 

Lukas 9:3 
kata Yesus kepada mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju." 

Artinya Tuhan yang melengkapi segala keperluan kita dan keperluan pelayanan

PERTAMA 
Diperlengkapi dengan sembilan karunia pelayanan dan kuasa dari Tuhan Allah 
( baca 1 Korintus 12:8-10 ) 

1 Korintus 12:6-7,11  
Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. 

Kisah 1:8 
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. 

KEDUA 
Dicukupi segala keperluan hidup orang yang diutus Allah 

2 Timotius 2:4 
Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. 

KETIGA 
Kita diberikan hikmat Allah 

1 Korontus 1:24 
Untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. 

Oleh sebab itu jangan lagi ragu-ragu untuk pergi diutus dan pergi pelayanan yang ditetapkan Allah agar kita kerjakan. 

Kita juga termasuk murid-murid Yesus karena iman percaya kepadaNya dan hendaklah kita melakukan apa yang dikehendakiNya. 

Yohanes 14:12 
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. 


Salam Kasih, 
Surya Darma 


Selasa, 24 September 2019

MELAKUKAN FIRMAN TUHAN


Selasa, 24 September 2019

EZRA 6:7-8,12,14-20
MAZMUR 122:1-5
LUKAS 8:19-21 

Lukas 8:21 
Yesus menjawab mereka: "IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka, yang mendengarkan Firman Allah dan melakukannya."  

Ketika Yesus diberitahu bahwa ibu dan saudara-saudara Yesus ada diluar dan ingin bertemu dengan Yesus (Lukas 8:20 atau Matius 12:47), apa jawaban Yesus: 

Matius 12:48 
Jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepadaNya: "Siapa ibuKu? siapa saudara-saudaraKu?" 

Matius 12:47-48 seringkali dipakai pihak lain untuk mendeskreditkan umat katolik bahwa Yesus mempunyai saudara artinya Ibu Yesus (=Bunda Maria) melahirkan anak lagi selain Yesus; hal ini dipakai untuk mengcounter gereja Katolik yang menetapkan Bunda Maria tetap perawan. 

Biarkan mereka mau bicara apa saja sebab yang terpenting adalah bagaimana kita memahami hal-hal apa yang Yesus ajarkan dari bacaan Injil ini. 

Yesus menjelaskan bahwa siapa yang melakukan kehendak Bapa di Sorga adalah saudara-saudaraNya dan ibuNya atau yang mendengarkan dan melakukan Firman Allah (Lukas 8:21). 

Matius 12:50 
Sebab siapapun yang melakukan kehendak BapaKu di sorga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu. 

Masing-masing anggota keluarga kita harus melakukan kehendak Bapa di Sorga atau melakukan Firman Allah untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, menjadi keluarga Allah. 

Matius 7:21 
Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. 

Pertanyaannya adalah

PERTAMA   
Mengapa kita harus melakukan kehendak Allah atau kehendak Bapa di sorga? 

Sebab masih banyak orang di kalangan umat kristiani yang tidak mau melakukan kehendak Bapa di Sorga karena merasa menjadi beban berat baginya sehingga tidak bebas dan tidak dapat melakukan kehendak/keinginan diri sendiri. 

Mengapa demikian? 

Penyebabnya adalah orang tersebut tidak mengasihi Allah sehingga kehendak dan perintah Allah menjadi beban bagi dirinya dan beban itu dirasakannya berat. 

Padahal Firman Tuhan mengatakan
1 Yohanes 5:2-3 
Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintahNya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintahNya. Perintah-perintahNya itu tidak berat. 

Artinya jika kita mengasihi Allah maka kita akan melakukan perintahNya dan mau menuruti semua kehendakNya. 

Alasan lain yang membuat banyak orang tidak mau melakukan kehendak Allah sebab tidak percaya kehendak Allah itu baik bagi dirinya. 

Ia merasa setiap larangan Allah kepada kita itu ada sesuatu yang ditutupi Allah sehingga kita dilarang begini dan begitu. 

Padahal Firman Tuhan mengatakan
Mazmur 84:12 
Sebab Tuhan Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. 

Coba saja baca keseluruhan Firman Tuhan di Alkitab, maka kita dapatkan bahwa segala sesuatu Allah lakukan untuk kepentingan dan kebaikan kita. 

Yeremia 29:11 
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. 

KEDUA  
Darimana tahu kehendak Bapa di Sorga? 

Kehendak Bapa di Sorga kita ketahui dari Firman Allah yang tertulis di kitabsuci yang disampaikan Roh Allah/ Roh Kudus 

Kita melakukan Firman Allah berarti kita melakukan  kehendak Bapa di Surga. 

Harus Ingat selalu bahwa : 
Firman Allah adalah makanan rohani buat roh kita, ini yang dikatakan Yesus. 

Yohanes 4:34 
Kata Yesus kepada mereka: "MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya. 

Begitupun kita, hendaknya Firman Allah adalah makanan bagi roh kita. 

Matius 4:4 
Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." 

KETIGA 
Bagaimana caranya agar kita mampu melakukan kehendak Bapa dari Firman Allah yang kita ketahui? 

Tentu saja dari Roh Allah/Roh Kudus memampukan kita untuk memahami Sabda/Firman Allah. 

Yohanes 14:16-17 
Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. 

Roh Allah/ Roh Kudus/Roh Kristus akan berdiam di dalam diri orang yang percaya kepada Yesus Kristus 

Yohanes 7:38 
Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup 

Tetapi dengan berjalannya waktu, 
Roh Allah tidak dapat bekerja di dalam diri orang yang membungkamkan Roh Allah demi memuaskan keinginannya sendiri karena Allah memberikan kebebasan memilih untuk membiarkan Roh Allah berdiam dalam dirinya ataukah menolak. 

Roma 8:9 
Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. 

Demikian ketiga pertanyaan ini mestinya menjadi suatu peringatan bagi kita agar tetap setia melakukan kehendak Bapa di Surga dengan menjadi pelaku Firman. 

Roh Allah/Roh Kudus harus kita miliki dan berdiam di dalam diri kita sebab tanpa Roh Allah/Roh Kudus maka kita tidak berdaya menjalano hidup ini. 

Mazmur 51:13 
Janganlah membuang aku dari hadapanMu, dan janganlah mengambil rohMu yang kudus dari padaku! 

Daud sadar akan hal ini sehingga beliau memohon agar Roh Allah tetap berdiam di dalam dirinya. 

Seseorang tidak memberi makanan pada rohnya maka ia masih bisa hidup tetapi bila ia kehilangan Roh Allah maka ia tidak dapat hidup karena imannya mati. 

Roh Allah dan Firman Allah sangat vital karena memberikan kekuatan agar dapat menjalani hidup ini sesuai dengan kehendak Bapa di Surga. 


Salam Kasih, 
Surya Darma