Jumat, 03 Juli 2015

RENUNGAN HARIAN 1 - 3 JULI 2015













RENUNGAN HARIAN RABU 1 JULI 2015

Kejadian 21:5, 8-20
Matius 8:28-34
Mazmur 34:7-13

Bacaan Injil Matius hari ini mengenai perikop dua orang kerasukan setan
disembuhkan oleh Yesus ketika berada di daerah orang Gadara.
setan tersebut mengetahui Yesus adalah Anak Allah padahal saat itu
belum ada orang Yahudi mengetahui tentang diri Yesus.
Matius 8:28-29
setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari
pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus.
mereka sangat berbahaya, sehingga tak seorangpun yang berani
melalui jalan itu dan mereka itupun berteriak, katanya:
"apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? adakah Engkau ke mari
untuk menyiksa kami sebelum waktunya?"
setan takut kepada Yesus dan setan tahu suatu hari nanti Yesus
mengalahkannya dengan kemenangan diatas kayu salib.
(baca 1 Petrus 1:14-21).
Wahyu 12:10-11
sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita,
dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka.
Allah begitu mengasihi manusia dan memberikan free will atau
kehendak bebas kepada manusia untuk menentukan pilihan;
apakah mengikuti kehendak Allah atau menuruti kemauan Iblis.
namun sayangnya sebagian manusia menyalah-gunakan free will
tersebut untuk memuaskan hawa nafsu kedagingannya.
kita bisa lihat korupsi merajalela di negeri kita, bahkan di dunia juga,
para koruptor berlomba-lomba memperkaya diri dan tidak sedikitpun
takut akan dosa, bahkan sambil tertawa mereka merasa tidak bersalah.
lalu kita baca dan lihat berita di televisi, ISIS membunuh orang seenaknya.
apakah terbersit di hati mereka bahwa perbuatannya itu adalah dosa.
sekarang dosa dianggap sebagai kesalahan biasa, lumrah, sebab
banyak orang juga melakukannya, kurang-lebih dalil mereka untuk
membenarkan diri seperti itu.
mendekati akhir jaman ini,
sebagian manusia semakin tidak takut kepada Allah,
aneh bin ajaib tapi inilah realita.
setan menggelepar-gelepar takut kepada Yesus, sampai-sampai
memohon supaya Yesus melemparkan mereka ke babi-babi saja.

Matius 8:31
maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: "jika Engkau
mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu."
ada yang bilang bahwa Allah itu tidak ada, itu cuman dongeng.
orang beriman juga tidak peduli kepada dosa demi mencapai
keinginannya maka tidak segan-segan berbuat kejahatan.
setelah itu mereka menutupi perbuatannya dengan merekayasa
dusta dan bohong agar supaya terhindar dari hukuman.
lalu hasil kejahatan digunakan sebagian untuk menyumbang gereja
menyumbang yayasan yatim piatu, dan menjadi donatur tersohor.
tawaran Iblis melalui kenikmatan duniawi ternyata sangat ampuh
membuat manusia "melupakan" kebaikan Allah yang mengasihinya.
tua-muda, besar-kecil, orang beriman atau atheis, terjerembab kedalam
penghiburan dunia yang memabokkan dan menina-bobokan.
Kita kudu mesti waspada terhadap tipu daya Iblis yang berusaha
menjauhkan kita dari Allah dan harus berani katakan "tidak" setiap
tawaran dan bujukan Iblis.

Yakobus 4:7 
karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis,
maka ia akan lari dari padamu!
hendaknya kita semakin mendekat kepada Allah dan terus-menerus
hidup dalam kebenaran Allah supaya dapat mengalahkan Iblis yang
selalu mengintai di saat kita lengah dan menjauh dari Tuhan.


RENUNGAN HARIAN KAMIS 2 JULI 2015

Kejadian 22:1-19
Matius 9:1-8
Mazmur 116:1-9
Bacaan Injil Matius hari ini mengenai orang lumpuh disembuhkan.
ayat 2
dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat
tidurnya. ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang
lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." 
disini mau diperlihatkan dimana seorang yang lumpuh dilayani oleh
orang-orang (mungkin teman komunitasnya) menggotongnya untuk
dibawa ke hadapan Yesus.
hidup di dunia ini, kita membutuhkan orang lain sebab kita tidak dapat
hidup sendirian dan tidak dapat hidup untuk diri sendiri.
Tuhan menghendaki kita hidup saling mengasihi satu dengan lainnya,
ini rahasia yang mesti kita ketahui bahwa Tuhan mencurahkan berkatNya
supaya kita membagikan berkat tersebut kepada orang lain juga.
kita menjadi saluran berkat bagi orang lain; tidak harus berbentuk uang
tetapi kita mendoakan orang, menolong membantu orang sakit, seperti
yang dilakukan beberapa orang yang mengusung si lumpuh supaya
didoakan dan disembuhkan oleh Yesus.
di jaman sekarang ini, banyak orang mengalami kesepian, membutuhkan
orang lain yang mau menemani mendengar keluh kesahnya.

2 Korintus 5:2
selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu
mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman
kita yang sekarang ini.
konseling sangat dibutuhkan saat ini, seringkali setelah menumpahkan
segala unek-uneknya, orang tersebut mengalami kelegaan.
kita yang mau menjadi pendengar bagi orang-orang tersebut termasuk
sudah menolong dan tidak selalu harus mengeluarkan uang banyak
pada saat kita melayani orang lain.
jaman dulu tidak ada kursi roda sehingga orang lumpuh praktis tidak
dapat berbuat banyak untuk menolong dirinya selain memohon belas
kasihan orang lain untuk menggotongnya.
demikian juga bagi orang yang mengalami kelumpuhan rohaninya,
orang tersebut tidak berdaya meski ada keinginan untuk sembuh.
sebagai orang beriman katolik, disini kesempatan bagi kita untuk
menolong orang-orang yang lumpuh fisiknya maupun lumpuh rohaninya.
sudah saatnya kita peduli kepada orang lain, mereka membutuhkan
pertolongan dari kita. Tuhan sudah memberkati kita, sudah sewajarnya
kita juga memberkati orang lain.
jika kita mengalami sukacita saat Tuhan menolong diri kita, maka
orang lainpun akan bersukacita saat dirinya ditolong oleh kita.
banyak yang bisa kita pelajari dari bacaan Injil hari ini, diantaranya :
1. mengapa Yesus justru mengatakan lebih dahulu : 'dosamu diampuni'
2. seringkali penyakit fisik disebabkan oleh gangguan kejiwaan
    apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya?
3. masalah kelumpuhan, selain bicara lumpuh fisiknya, juga banyak
    yang mengalami "lumpuh rohani" , hal apa saja yang menjadi sebab
    dan bagaimana cara menanggulanginya?


RENUNGAN HARIAN JUMAT 3 JUNI 2015


Efesus 2:19-22
Yohanes 20:24-29
Mazmur 117:1,2
Bacaan Injil Yohanes hari ini, Yesus menampakkan diri kepada Tomas.
Yohanes 20:27
Yesus berkata kepada Tomas: "taruhlah jarimu di sini dan lihatlah
tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku
dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
memang tidak mudah mempercayai sesuatu diluar nalar manusia
sebab membutuhkan iman untuk mempercayainya.
bisa kita bayangkan bagaimana reaksi Tomas tatkala mendengar cerita
dari teman-temannya yang mengatakan bahwa Yesus yang disalib itu
menampakkan diri bahkan berbicara kepada mereka.
Yohanes 20:25
kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "kami telah melihat Tuhan!"
tetapi Tomas berkata kepada mereka: "sebelum aku melihat bekas paku
pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas
paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali
aku tidak akan percaya."

kita terbiasa menggunakan logika dan akal budi untuk menilai sesuatu
peristiwa yang spektakuler dan cenderung tidak percaya, meskipun
kita melihat langsung dengan mata jasmani.
melihat orang didoakan dengan penumpangan tangan, lalu terjatuh maka
logika kita berpikir : apa iya disebabkan Roh Kudus yang mengurapi
orang tersebut, apalagi jika sampai seperti orang kesurupan,
eiiittt nanti dulu untuk percaya, apa yang dilihat.
Hal ini juga terjadi pada saat Samuel sedang memilih anak Isai, yaitu :  
saudara-saudara Daud yang lebih besar dan kekar daripada Daud,
untuk diurapi sebagai raja Israel sesuai perintah Tuhan kepadanya.

1 Samuel 16:7
berfirmanlah Tuhan kepada Samuel : "janganlah pandang parasnya
atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya.
bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah,
manusia melihat apa yang di depan mata tetapi Allah melihat hati."
Terlepas dari ketidak-percayaan Tomas bahwa Yesus telah bangkit ;
yang mau kita renungkan disini adalah sisi kemanusiaan kita yang
mengandalkan kemampuan inteletual yang seringkali menghalangi
laju pertumbuhan iman kita.
pada umumnya seseorang baru percaya bila ia mengalami sendiri,
bukan mendengar / melihat orang lain mengalami curahan Roh Kudus.
biasanya setelah ia mengalami mukjizat Tuhan maka ia baru percaya
dan menggebu-gebu mau bersaksi menceritakan pengalaman rohani
yang dialaminya kepada banyak orang.

seperti Tomas, setelah ia berjumpa dengan Yesus,  barulah ia percaya
bahwa Yesus telah bangkit dan percaya Yesus adalah Tuhan.
Yohanes 20:28
Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

tidak heran bila Yesus berkata seperti ini,
Yohanes 20:29
kata Yesus kepadanya: "karena engkau telah melihat Aku, maka engkau
percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
Orang yang mengalami perjumpaan dengan Yesus, akan mengalami
perubahan dalam dirinya, imannya bertumbuh, keyakinannya bertambah
dan hatinya bergelora ingin selalu masuk dalam persekutuan denganNya.
itu sebabnya mengapa kita mengajak orang lain supaya mau bangun
relasi dengan Tuhan supaya mereka mengalami sukacita Ilahi.
mulut sudah berbusa-busa mewartakan kebenaran Tuhan tetapi jika
orang tersebut menutup hatinya maka hanya melalui perjumpaan dengan
Tuhan saja yang akan mengubah keyakinan iman percayanya.
umumnya laki-laki / pria lebih sulit menerima sesuatu diluar logikanya.
seringkali Tuhan menyentuh pria lewat peristiwa yang berkaitan dengan
dirinya; paling sering lewat kebangkrutan usahanya, karirnya jatuh, atau
lewat penyakit kronis yang dideritanya.
Praise the Lord ! Puji Tuhan !
Percayalah hanya kepada Tuhan dalam segala kondisi hidupmu.
Iman membutuhkan asupan makan rohani dan jangan biarkan iman itu
nelangsa dan kelaparan sehingga menghambat pertumbuhan iman.
berbahagialah orang percaya sebelum melihat, terjadi pada diri kita.
kepintaran kita, intelektual kita, kemampuan daya analisa otak kita
tidak dapat diandalkan melainkan percaya saja kepada Tuhan.
lebih baik percaya dahulu daripada percaya belakangan namun sudah
terlambat seperti kisah orang kaya dan lazarus (baca Lukas 16:19-31).


RENUNGAN HARIAN SABTU 4 JULI 2015

Kejadian 27:1-5, 15-29
Matius 9:14-17
Mazmur 135:1-6
Bacaan Injil Matius hari ini tentang hal berpuasa.
justru murid-murid Yohanes yang menanyakan mengapa murid Yeus
tidak berpuasa padahal mereka dan juga orang Farisi berpuasa.
Matius 9:14
kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata:
"mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"
jika kita cermati menurut kitab Taurat, kewajiban berpuasa hanya 1x
dalam setahun yakni pada saat hari raya pendamaian.

Imamat 23:26-28
Tuhan berfirman kepada Musa: pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh
itu ada hari Pendamaian; kamu harus mengadakan pertemuan kudus
dan harus merendahkan diri dengan berpuasa dan mempersembahkan
korban api-apian kepada Tuhan.
Pada hari itu janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan;
itulah hari Pendamaian untuk mengadakan pendamaian bagimu
di hadapan TUHAN, Allahmu.
murid-murid Yohanes kemungkinan besar termakan hasutan dari
orang Farisi yang memang tidak suka kepada Yesus.
memang orang Farisi berpuasa berpuasa 2x dalam seminggu ...
melebihi dari puasa yang diwajibkan; adalah baik namun sayangnya
mereka menuntut orang lain juga harus berpuasa seperti mereka.
 
Lukas 18:11-12a
orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini:
Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama
seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim,
bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
aku berpuasa dua kali seminggu .....
sesungguhnya, perbuatan baik yang kita lakukan hendaknya tidak perlu
ditonjolkan dan diberitahukan kepada orang lain sebab hal tersebut
tidak berkenan bagi Tuhan.
bila kita sudah berbuat, yach baguslah....
berarti kita sudah menyenangkan hati Tuhan.
tidak perlu kita memuji diri sendiri , atau mengharapkan pujian orang lain,
apalagi sampai menuntut orang lain berbuat seperti yang kita perbuat.
begitu juga saat kita melakukan kewajiban yang ditetapkan gereja,
kita yang sudah komitmen dan setia mengerjakan kewajiban tersebut,
tidak seharusnya menjadi hakim bagi orang lain yang belum komitmen.
boleh menegur dan mengingatkan tetapi tidak perlu menuntut orang lain
menjalankan tugas pelayanan seperti yang kita lakukan sebab pelayanan
itu lahir dari hati yang bersyukur dan mau menyenangkan hati Tuhan. 

Matius 6:1 
Ingatlah jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang 
suoaya dilihat mereka. karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari 
Bapamu yang di sorga. 
orang Farisi dan ahli Taurat melakukan kewajiban agama dengan tujuan
mencari penghormatan dan pujian, celakanya mereka memiliki wewenang
membuat peraturan yang mengharuskan orang lain mentaatinya.
itu sebabnya mereka menegur Yesus secara tidak langsung,
dengan mengatakan murid-murid Yesus tidak berpuasa seperti mereka.
kita dengar apa jawaban Yesus, dibawah ini :
Matius 9:15
jawab Yesus kepada mereka: "dapatkah sahabat-sahabat mempelai
laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?
tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan
pada waktu itulah mereka akan berpuasa.
ayat ke 15 ini mengundang banyak penafsiran beraneka ragam,
namun yang pasti gereja katolik menetapkan kewajiban puasa
di masa pra-paskah.
puasa yang kita lakukan pada masa pra-paskah bertujuan untuk intropeksi
diri semua perbuatan yang telah kita lakukan.

sedangkan puasa yang kita lakukan ketika hendak melakukan tugas-tugas
pelayanan bertujuan untuk memohon belas kasihan Tuhan mencurahkan
Berkat dan Anugerah Ilahi kepada orang yang kita layani / doakan atau
memohon Roh Kudus mengurapi kita untuk mengusir roh-roh jahat dan
melepaskan orang lain dari belenggu kuasa roh jahat. 

Selanjutnya, Yesus mengatakan dua perumpamaan yaitu : 

Matius 14:16 
tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju
yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu,
lalu makin besarlah koyaknya.
Matius 14:17
begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit
yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu
terbuang dan kantong itupun hancur tetapi anggur yang baru disimpan
orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah
kedua-duanya.
kedua perumpamaan ini hendak ditujukan kepada orang Farisi.
mereka tidak mau membuka hati menerima pengajaran Yesus.
demikian juga hendaknya kita mau membuang cara dan sikap hidup
manusia lama kita supaya hidup kita dipulihkan dan diperbaharui
serta mengalami cinta kasih Tuhan di dalam hidup kita.
jika anda telah mengikuti Seminar Hidup Dalam Roh Kudus (=SHDRK)
yang saat ini sedang berlangsung  di gereja kita St.Yakobus maka
anda akan mengerti, hal-hal apa saja yang harus kita lepaskan dan kita
tanggalkan di kehidupan lama kita agar supaya kita menerima hidup baru.
kita tidak bisa mencampur-adukan prinsip hidup menurut pandangan
duniawi dengan prinsip hidup yang berkenan bagi Tuhan.
kita harus memilih salah satu diantara kedua prinsip hidup tersebut.
Jadi ada dua hal penting yang kita renungkan pada hari ini, yaitu :
Pertama
Lakukan apa yang menjadi bagian tugas kita tanpa harus menuntut
apalagi menghakimi orang lain
Kedua
untuk memperoleh hidup baru yang berkenan bagi Tuhan maka harus 
membuang dan meninggalkan sikap hidup yang mengandalkan 
prinsip kebenaran duniawi. 
Roma 12:2
janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah
kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan
yang sempurna.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan ketik komentar Anda atau mungkin membutuhkan doa dan konseling, ke alamat email saya : surya.pdkk@gmail.com