Selasa, 22 Maret 2016

YESUS DIURAPI MARIA DI BETANIA












Senin, 21 Maret 2016 

Kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu. 
                                        (Yoh 12:7)

Umat Katolik memasuki pekan suci menjelang Paskah setelah kemarin minggu palma untuk mengenang saat dimana Yesus masuk kota Yerusalem untuk mentuntaskan misi dan tujuanNya menyelamatkan manusia. 

Bacaan Injil diambil dari Injil Yohanes untuk menggambarkan situasi saat itu yang dialami Yesus dimana enam hari sebelum paskah Yahudi Yesus datang ke Betania ke rumah Maria, Marta, Lazarus. 

Tentu ketiga bersaudara ini menyambut kedatangan Yesus dengan gembira dengan menjamu Yesus dan melayani Yesus sepenuh hati. 

Yohanes 12:1-2 
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. 

Kita bisa membayangkan suasana pertemuan mereka dengan Yesus pasti menyenangkan hati sehingga Maria salah seorang dari ketiga bersaudara ini mengungkapkan syukur dan terima kasih dengan meminyaki kaki Yesus memakai minyak narwastu yang mahal harganya. 

Yohanes 12:3 
Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. 

Kebiasaan orang Yahudi menyediakan sebaskom air untuk membasuh kaki ketika memasuki rumah sebab selama di perjalanan debu pasir mengotori kaki. 

Apa yang dilakukan Maria, dikritik oleh Yudas Iskariot dengan alasan mengapa menghamburkan minyak mahal hanya untuk meminyaki kaki Yesus. 

Yohanes 12:4-5 
Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" 

Kebiasaan tidak baik selalu saja terjadi dimana seseorang mengkritik orang lain dari sudut pandang dirinya sendiri tetapi ia sendiri tidak berbuat seperti orang yang dikritiknya karena merasa pendapatnya benar dan orang lain itu salah. 

Yudas Iskariot adalah bendahara yang mengatur keuangan pelayanan yang Yesus lakukan tetapi ia korupsi untuk kepentingan dirinya sendiri. 

Yohanes 12:6 
Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. 

Ternyata dari jaman dulu, sikap orang korupsi adalah menyalahkan orang lain menghamburkan uang padahal dirinya berbuat lebih dari itu. 

Kita bisa saksikan apa yang terjadi di negara kita saat ini; oknum pejabat yang korupsi mengklaim dirinya bersih dan menyalahkan orang lain yang korupsi ... 
aneh tapi nyata, sudah tidak punya urat malu, ibaratnya : maling teriak maling!! 

Sebetulnya kritikan itu tidak selalu jelek asalkan tujuannya memperbaiki dan membangun hal-hal yang belum baik tetapi pengkritik harus memberikan solusi bagaimana baiknya. 

Sebelum mengkritik orang lain, cobalah mengaca diri sendiri; apakah solusimu itu sudah kau terapkan pada dirimu sebelum diterapkan kepada orang lain. 

Yesus mengetahui Yudas Iskariot korupsi dan sepertinya mungkin sudah berulangkali ditegur dan dinasehati (meskipun di Alkitab tidak dituliskan) dan hal ini terlihat dari jawaban Yesus atas kritikan Yudas Iskariot kepada Maria mengenai minyak narwastu. 

Yohanes 12:7-8 
Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu." 

Dengan mudah kita mengangguk setuju bahwa perbuatan Yudas Iskariot itu tidak baik namun alangkah eloknya bila kita mau merenungkan perbuatan yang telah kita lakukan di sepanjang hidup kita; jangan-jangan kita berbuat hal serupa dengan yang dilakukan Yudas Iskariot dalam bentuk perbuatan yang lain? 

misalnya : 
perbuatan menyuap, menyogok, supaya bisnis menjadi lancar dengan berdalih orang lain juga berbuat serupa dan dengan arogan berkata : kalo ga berbuat begitu, produk/barang gue kagak jalan dan mana bisa cepat terjual, dsbnya. 

atau yang agak sopan dan halus caranya adalah dalam rohani, seseorang berbuat baik terlebih dahulu karena ada tujuan lain yang mendatangkan keuntungan berlipat ganda bagi dirinya... 

Seharusnya perbuatan baik yang kita lakukan kepada orang lain didasarkan atas ungkapan syukur kita kepada Tuhan yang telah memberkati hidup kita dan mengalami hidup berkecukupan bahkan berkelimpahan dalam harta maupun dalam sukacita yang membahagiakan. 

Jadi tujuan kita berbuat baik kepada orang lain adalah bukan untuk dipuji dan bukan untuk keuntungan materi buat diri sendiri tetapi murni menolong orang lain tanpa pamrih. 

Seperti yang dilakukan Maria; dengan rela ia membeli minyak narwastu yang harganya mahal untuk menyenangkan hati Yesus karena Maria bersyukur adiknya Lazarus dibangkitkan Yesus dan hidup kembali. 

Kita berbuat baik kepada orang lain karena mau menyenangkan hati Yesus sebagai ungkapan syukur atas kebaikan dan kasih Yesus atas hidup kita. 

Kita berbuat baik kepada orang lain karena kita pernah mengalami betapa menderitanya hidup dalam kekurangan dan kita mau berbagi kebahagiaan kepada orang lain supaya mereka juga terlepas dari penderitaan. 

Kita sangat senang bila menerima bantuan dan pertolongan orang lain mala kita juga mau sipaya orang lain juga senang ketika menerima bantuan dan pertolongan dari kita. 

Dimasa pekan suci ini adalah saat yang tepat kita merenungkan bagaimana Yesus telah berbuat baik bahkan telah menyelamatkan hidup kita yang amat berarti mengubah hidup kita menjadi lebih sukacita setelah Yesus menolong dan memberkati hidup kita. 

Dan tidak berhenti hanya merenungkan saja dan hanya bersyukur saja tetapi mau kita ungkapkan lewat perbuatan baik kepada orang lain yakni mau berbagi dan menolong orang lain yang sedang kesusahan supaya mereka juga mengalami sukacita Ilahi seperti yang kita rasakan dan alami di hidup kita. 

Itulah makna dari perbuatan Maria yang meminyaki kaki Yesus dengan memakai minyak narwastu yang mahal. 
artinya : seluruh keberadaan dirinya dia berikan kepada Yesus karena dia sadar dirinya dan diri kedua saudaranya telah diselamatkan Yesus. 

Sedangkan Yudas Iskariot melihat dari sisi materi mahalnya minyak narwastu. 
artinya : ia berhitung apakah ada untung rugi atau ada manfaat bagi dirinya ketika melakukan perbuatan baik. 

REFLEKSI DIRI 

Apakah hatiku senantiasa bersih dari keinginan kepentingan diriku ketika aku melakukan perbuatan baik kepada orang lain dan apakah aku menuntut upah atas kebaikanku kepada Tuhan? 


Salam Kasih, 
Surya Darma 

============= ☆☆☆ ============

Kalender Liturgi Katolik 
Pekan Suci 
Warna Liturgi : Ungu 

Yesaya 42:1-7
Mazmur 27:1-3,13-14 
Yohanes 12:1-11
BcO : Yeremia 26:1-15 

============= ☆☆☆ ============

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan ketik komentar Anda atau mungkin membutuhkan doa dan konseling, ke alamat email saya : surya.pdkk@gmail.com