Sabtu, 17 Oktober 2015

PENGAJARAN KHUSUS YESUS











Renungan Harian 16 Oktober 2015 
PENGAJARAN KHUSUS YESUS 
(Lukas 12:1-7) 

Roma 4:1-8 
Mazmur 32:1-2,5,11

Saudara/i dalam Yesus Kristus, 

Injil Lukas hari ini, diantara ribuan orang berdesakan mengerumuni-Nya,
Yesus memberikan pengajaran khusus
kepada murid-muridNya tentang beberapa hal. 

Lukas 12:1a 
sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga
mereka berdesak-desakan, lalu Yesus mulai mengajar,
pertama-tama kepada murid-muridNya ... 

Pertama 
Waspadalah terhadap Ragi orang farisi (=kemunafikan) 

Lukas 12:1b, 2-3 
kata Yesus : "waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi." 

tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan
tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.
karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap
akan kedengaran dalam terang, dan
apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar
akan diberitakan dari atas atap rumah

orang farisi tak dapat menyembunyikan kemunafikan mereka di hadapan 
Yesus meski di hadapan manusia/orang lain, kemunafikan mereka tidak 
terlihat. seperti kita ketahui, kemunafikan orang farisi yang sangat 
menonjol adalah : 

1)  membersihkan bagian luar dari cawan
     dan pinggan tetapi bagian dalammu 
     penuh rampasan dan kejahatan. 
     (Lukas 11:39) 

2)  membayar persepuluhan tetapi 
     mengabaikan keadilan & kasih Allah 
     yang satu harus dilakukan dan 
     yang lain jangan diabaikan. 
     (Lukas 11:42) 

3)  suka duduk di tempat terdepan 
     di rumah ibadat dan suka menerima 
     penghormatan di pasar. 
     (Luk 11:43) 

pengajaran Yesus ini berlaku juga bagi kita, agar menjauhi sikap orang 
farisi dan sikap ahli taurat yang dikecam Yesus supaya kita menjadi 
orang beriman yang rendah hati, tulus hati, terbuka hatinya 
dan sekaligus murah hati. 

namun sayangnya, sudah ribuan tahun berlalu ternyata masih banyak
orang beriman pada Yesus Kristus yang belum mengetahui dan memahami
pengajaran Yesus dan peringatan Yesus terhadap perilaku orang farisi (dan ahli taurat). 

pertanyaannya adalah : 
bagaimana dengan pribadi kita, apakah terbebas dari sikap orang farisi? 

ragi orang farisi berhubungan dengan hati dan pikiran. 
bagaimana menjaga hati dan pikiran agar seturut kehendak Tuhan. 

Roma 12:2 
janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan
manakah kehendak Allah:
apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna

persoalannya adalah : 
1)  apakah kita mau tahu dan memahami 
     kehendak Allah? 
2)  apakah kita mau menanggalkan dan 
     menguburkan sikap hidup lama yang 
     bertentangan kehendak Allah? 
3)  apakah kita mau taat melakukan 
     kehendak Allah? 

ketiga hal ini akan menentukan apakah kita sungguh memperbaharui diri dan menjalani hidup baru; pikiran baru & hati baru sesuai kehendak Allah. 

dengan demikian kita mampu menolak pengaruh ragi orang farisi. 

Kedua 
Jangan takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh 

Lukas 12:5 
Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti.
Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. 
Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! 

tidak mudah menampilkan sikap berani ketika berhadapan dengan sesuatu hal yang menyangkut kepentingan pribadi, menekan jiwa dan 
mengancam nyawa. 

saya sharingkan pengalaman dimana diperhadapkan ancaman saat
sedang ditugaskan perusahaan untuk mengaudit kebenaran laporan
pengiriman kayu dari logpon di pedalaman Kalimantan. 

mula-mula saya dibujuk supaya tidak melaporkan kecurangan dengan kolusi bagi hasil korupsi dan diservis cewek. 

dengan tegas saya menolak dan tetap melakukan pemeriksaan dan
akhirnya menemukan adanya manipulasi data jumlah kayu log yang dikirim
melalui kapal tongkang ke Semarang. 

selama ada di pedalaman Kalimantan berbagai ancaman harus dialami;
mulai dari ditakut-takuti pakai kuasa gelap hingga diancam akan dibunuh. 

meski awalnya berani tetapi saat menghadapi secara kasat mata gimana 
diperlihatkan kekuatan kuasa jahat maka nyali saya ciut dan takut mati. 

saat itu saya belum tahu kebenaran firman Tuhan; jujur saja ga pernah baca Alkitab, berdoa hanya hapalan doa Bapa kami, Salam Maria, 
Kemuliaan, itupun jarang berdoa. 

singkat cerita, saya tetap menolak saat dikasih segepok amplop duit dan
tidak mau diservis cewek tetapi saya tidak melaporkan kecurangan mereka malah mengatur laporan seakan-akan hanya kesalahan human 
di administrasi saja. 

boss percaya track record  "kejujuran" saya selama bekerja 
di perusahaannya maka kasus tersebut hanya sebatas 
keteledoran/kelalaian, bukan korupsi. 

lalu saya mengundurkan diri beberapa bulan kemudian karena tidak tahan
"melawan hati nurani" dan tekanan dari ancaman mereka. 

saya menyesal telah menyalah-gunakan kepercayaan boss dan
memohon pengampunan Tuhan. 

Roma 4:7-8 
"Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan
yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya
tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.

Mazmur 32:1 
Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!

dari pengalaman pahit ini menyadarkan diri saya ini sangat lemah
jika jauh dari Tuhan dan bertekad untuk mengenal kebenaran Tuhan
dan hidup didalamNya.

ketakutan, kekhawatiran hanya dapat diatasi jika mengenal dan memahami kebenaran firman Tuhan serta menjalin relasi intim 
dengan Tuhan. 

banyak proses pemurnian diri yang harus kita lalui hingga suatu hari nanti
menjadi tegar dan tidak takut kehilangan nyawa sekalipun seperti
para martir, santo dan santa, para rasul, justru bangga telah
mengambil bagian dalam Salib Yesus. 

Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan 
 oleh karena Nama Yesus. (Kisah 5:41)

yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya
dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa
dengan Dia dalam kematianNya, supaya aku akhirnya beroleh
kebangkitan dari antara orang mati. (Filipi 3:10-11) 

REFLEKSI DIRI 

hendaknya kita terbuka hatinya dan tidak bersikap munafik
di hadapan orang lain, terlebih di hadapan Allah. 

transformasi pikiran dan hati kita agar hidup kita diperbaharui
dan mengalami hidup baru di dalam Tuhan. 


Salam Kasih, 
Surya Darma 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan ketik komentar Anda atau mungkin membutuhkan doa dan konseling, ke alamat email saya : surya.pdkk@gmail.com