Jumat, 26 Februari 2016

KASIH BAPA KEPADA ANAKNYA













Sabtu, 27 Februari 2016 

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 
                                                     (Lukas 15:20) 

Figur seorang bapa/ayah sangat penting bagi perkembangan anak-anaknya sebab akan mempengaruhi masa depan anak. 

Tanpa disadari, apa yang terjadi pada diri kita saat ini adalah akibat dari masa lalu; bila di masa kecil mengalami tekanan dalam keluarga yang melukai hati maka di masa dewasa berimbas pada perilaku orang tersebut. 

Biasanya potensi luka batin di dalam keluarga sangat besar terutama sikap bapa/ayah mempengaruhi mentalitas anak-anak dan apalagi ditambah faktor lingkungan dan pergaulan tidak baik maka si anak yang bertumbuh dewasa mengalami perubahan dalam perilaku dan pandangan hidupnya. 

Sekali lagi, hai bapa-bapa/ayah jadilah teladan baik bagi anak-anakmu supaya mereka mengalami hidup penuh cinta kasih sehingga saat mereka berkeluarga dapat membahagiakan anak-anaknya dan istrinya. 

Banyak kasus keluarga broken home disebabkan si ayah/bapa yang bermasalah di masa kecil mengalami luka batin yang mengakibatkan perilaku dirinya berpotensi melukai orang lain juga dan keluarganya ketika ia menikah. 

Kita sebagai ayah/bapa atau sebagai orangtua yang memberikan cinta kasih kepada anak-anak, belum tentu pasti menjamin perilaku anak-anak sesuai dengan yang kita harapkan. 

Injil hari ini memberikan contoh seorang bapa/ayah yang baik hati dan penuh cinta kasih kepada anak-anaknya tetapi ternyata kedua anaknya bermasalah. 

ANAK BUNGSU 

Anak bungsu menuntut warisan padahal bapanya masih hidup. 

Lukas 15:11-12 
Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 

setelah mendapatkan warisan, si bungsu berfoya-foya menghabiskan warisannya sehingga hidupnya menderita.  

Lukas 15:13-16 
Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya

ANAk SULUNG 

Ia merasa bapanya/ayahnya tidak adil memperlakukan dirinya dimana ia setiap hari membantu bekerja di ladang, tidak pernah diadakan pesta buat dirinya sedangkan kepada adiknya yang baru kembali setelah menghabiskan warisan, ternyata di pestakan oleh bapanya. 

Lukas 15:25-28 
Anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 

HINDARI SIKAP ANAK SULUNG 

Apa yang terjadi pada anak bungsu dan anak sulung merupakan cerminan perilaku kita sebagai anak-anak Allah sebelum kita dewasa rohani; bukan dewasa dalam hal umur kita. 

Ada diantara kita yang bersikap seperti si anak sulung yang menuntut Bapa kita Bapa Surgawi melimpahkan BerkatNya terutama berkat duit dan harta duniawi; persis seperti anak sulung menuntut kepada bapanya/ayahnya mengadakan pesta buat dirinya. 

Merasa sudah menuruti kehendak Bapa Surgawi dan menjalani hidup baik-baik maka menuntut balasan diberikan Berkat yang melimpah melebihi orang lain yang menjalani hidup tidak sesuai kehendak Bapa Surgawi, apalagi bersikap seperti si anak bungsu yang kurangajar menuntut warisan selagi ayahnya masih hidup dan cilakanya malah menghabiskan warisan sehingga hidupnya menderita. 

Itu sebabnya Yesus memperingatkan kita yang sudah melaksanakan tugas dari Tuhan dan sebaiknya berkata : 

Lukas 17:10 
Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. 

Kita seharusnya bersikap rendah hati dan tidak menuntut Berkat Tuhan atau bahkan iri hati kepada orang lain yang menurut pandangan kita lebih diberkati dari berkat yang kita terima. 

Dalam perumpamaan ini kita bisa lihat apa jawaban bapanya/ayahnya kepada anaknya sulung yang marah kepadanya. 

Lukas 15:31-32 
Kata ayahnya kepada anaknya sulung: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. 

Terlihat si anak sulung iri hati kepada adiknya si bungsu dan mungkin menurut pendapatnya seharusnya adiknya menerima hukuman akibat dosanya. 

Lukas 15:29-30 
Anak sulung menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 

Bukankah kita juga cenderung bersikap seperti anak sulung yang menghakimi orang lain yang menjalani hidup jauh dari Tuhan seharusnya hidup mereka tidak diberkati Tuhan (=tidak dipestakan bapa kepada si bungsu). 

Kita merasa lebih layak dan pantas terima banyak Berkat dari Bapa Surgawi dibandingkan orang lain sebab merasa sudah melaksanakan tugas Bapa Surgawi dan merasa sudah taat hidup sesuai kehendak Bapa Surgawi. 

PELAJARAN BERHARGA DARI SIKAP ANAK BUNGSU 

Ketika kita membaca perilaku anak bungsu, terkesan kurang ajar sekali yach 
ayahnya masih hidup tapi nuntut dibagi warisan; anak mana ada hak menuntur warisan orangtuanya. 

Warisan itu adalah pemberian dari orangtua yang mengasihi anak-anaknya. 
Jika orangtua tidak membagikan warisan maka anak-anak tidak dapat menuntut hak atas warisan orangtuanya 

Kisah ini menunjukan si bapa baik hati yang mau memenuhi keinginan anaknya si bungsu dan membagikan warisan. 

Bukankah perilaku kita sebagai anak-anak Allah juga sama dengan perilaku si anak bungsu dimana kita cenderung menuntut Allah memberkati kita. 

Apa hak kita menuntut kepada Allah? 
Kita ini manusia diciptakan Allah dan mana ada hak kita menuntut Allah. 

Allah berjanji akan memberkati kita yang diakuiNya sebagai anak-anakNya melalui penebusan Yesus Kristus. 

Galatia 4:6-7 
Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh AnakNya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. 

Tetapi kita tidak ber-hak menuntut Allah sebab semua yang kita terima dari Allah adalah Anugerah atau pemberian gratis alias cuma-cuma. 

Yesaya 55:1 
Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! 

Disamping sikap kurangajar anak bungsu menuntut warisan dan menghabiskannya dengan berfoya-goya tetapi ia sudah menanggung akibat dari perbuatan salahnya dan dosanya dimana ia hidup menderita. 

Ada sikap yang baik yang patut dicontoh yakni si bungsu mengakui kesalahannya dan meminta ampun kepada bapanya dan ia berbalik arah alias bertobat dengan tidak melakukannya lagi. 

Lukas 15:17-20a 
Anak bungsu menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. 

Demikianlah hendaknya kita bersikap seperti anak bungsu bila kita bersalah atau berdosa kepada Allah. 

Sebab kita tahu bahwa Allah kita adalah Bapa Surgawi yang teramat sangat mengasihi kita manusia dan kita tidak perlu segan atau takut kepada Bapa Surgawi bila kita mau mengakui dosa kita dan kembali mengikuti kehendak Bapa Surgawi. 

Mazmur 103:8-10 
Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. 
Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita. 

JADI 

Perumpamaan tentang anak yang hilang ini memberikan banyak pelajaran bagi kita tentang ke 3 sifat dan sikap dari si ayah/bapa, si anak sulung, dan si anak bungsu di dalam hidup kita. 

Jujur saja, ke 3 karakter ini pasti pernah kita alami di dalam diri kita dan akan bergantung pada seberapa dalam iman kita yang mempengaruhi ke 3 karakter tersebut; apakah karakter bapa yang penuh kasih lebih dominan menguasai hidup kita? 

REFLEKSI DIRI 

Apakah aku telah mengintropeksi diriku; masih adakah sikap anak sulung yang tidak menyadari kebaikan bapanya ataukah sikap anak bungsu yang banyak menuntut dan berfoya-foya, di dalam diriku saat ini? 

Apakah aku mau meneladani sikap bapa yang baik hati dan mau memaafkan kesalahan orang lain? 


Salam Kasih, 
Surya Darma 

============= ☆☆☆ =============

Kalender Liturgi Katolik 
Hari Biasa Pekan II Prapaskah 
Warna Liturgi : Ungu 

Mikha 7:14-15,18-20  
Mazmur 103:1-4,9-12 
Lukas 15:1-3,11-32 
BcO : Keluaran 20:1-17 

============= ☆☆☆ =============

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan ketik komentar Anda atau mungkin membutuhkan doa dan konseling, ke alamat email saya : surya.pdkk@gmail.com